Berita PPA

(Indonesian) MAKNA SYAHRUL MAGHFIRAH 

(Indonesian) Syahrul maghfirah merupakan bahrul maghfirah, menggambarkan keluasan yang tidak terhingga dibanding luasnya lautan.
Ampunan Allah terhadap dosa-dosa hamba-Nya seluas samudera yang luasnya tidak terhingga, apalagi ampunan yang diberikan Allah di bulan ramadhan.

(Indonesian) MAKNA TAZKIYAH DI BULAN RAMADHAN

(Indonesian) Puasa mengandung makna sebagai penyucian jiwa yang kotor akibat dosa, dan penyakit ruhani. Sekecil apapun dosa dan maksiyat dapat mengotori jiwa, demikian juga penyakit ruhani seperti kufur nikmat, sombong, rasa bermusuhan, rasa benci, rasa dengki, rasa dendam, dapat mengotori jiwa.

(Indonesian) MAKNA TARBIYAH DI BULAN RAMADHAN

(Indonesian) Bahwa puasa merupakan system pendidikan Tuhan, untuk membentuk manusia menjadi “Khairul bariyyah” yakni sebaik-baik makhluq, maka orang yang tidak mau mengikuti pendidikan yang di selenggarakan oleh Allah, akan menjadi “Syarrul Bariyyah” yakni sejelek-jelek manusia. Atau dapat dipahami bahwa puasa merupakan latihan untuk mengasah sifat Rububiyah yakni sifat ke-Tuhanan, seperti kasih sayang, pema’af, pemberi, penolong, penyantun, bijaksana, dll. 

(Indonesian) MOTIVASI RASULULLAH TENTANG IBADAH PUASA

(Indonesian) Rasulullah menjawab: “Allah akan memberikan pahala ini kepada orang yang memberi buka puasa walaupun dengan sebiji kurma, atau seteguk air, atau setetes susu”. Inilah bulan yang permulaannya (sepuluh hari pertama) Allah menurunkan rahmat, yang pertengahannya (sepuluh hari pertengahan) Allah memberikan ampunan, dan yang terakhirnya (sepuluh hari terakhir) Allah membebaskan hamba-Nya dari api neraka.

(Indonesian) MAKNA ISTIRJA’

(Indonesian) Allah SWT. telah memberi petunjuk ketika menghadapi berbagai cobaan dalam kehidupan, karena realitas sunnatullah menetapkan bahwa hidup tidak pernah sepi dari cobaan atau musibah, sebagaimana terungkap dalam filsafat hidup bahwa “Hidup adalah serentetan problematika yang datang silih berganti, hidup tanpa problematika berarti mati”.

Ungkapan di atas mengandung makna tentang konsekwensi hidup yang harus diterima dengan lapang hati dan kesadaran tinggi, bahwa Allah dalam memberikan ujian atau musibah tidak mungkin bertujuan jelek, tidak mungkin melampaui batas kemampuan hamba-Nya, tidak mungkin tanpa makna dan hikmah. Maka untuk menggali makna dan hikmah perlu memahami firman Allah:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ۞ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (Q.s. Al-Baqarah [2]: 155-156).

Ayat di atas menjelaskan bahwa orang yang sabar adalah orang yang ketika menghadapi musibah mengucapkan kalimat: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Sesungguhnya semua milik Allah dan sesunguhnya semua akan kembali kepada Allah.

Kalimat tersebut adalah kalimat istirja’ yang membangun kesadaran dan mental manusia tahan uji ketika menghadapi ujian, seraya mengembalikan segalanya kepada Allah setelah berusaha dan berdo’a. Karenanya tidak sekedar diucapkan, namun harus dihayati makna dan pesan moralnya. Manakala kalimat istirja’ tersebut dihayati sepenuh hati dan pikiran, insya Allah akan menemukan makna dan pesan morala bahwa istirja’ adalah:

1. Membangun kesadaran hakekat rizqun mamlukun.
Rizqun Mamlukun adalah semua rizqi, semua anugerah milik mutlaq Allah, manusia dipersilahkan untuk memanfaatkan semua rizki dan anugerah Allah secara optimal, karena pada akhirnya semuanya akan kembali kepada pemiliki mutlak yakni Allah SWT., termasuk anugerah hidup yang paling berharga adalah umur dan kesehatan (Q.s. Yasin [36]: 68) dan Maryam [19]: 4).

2. Membangun kesadaran bertawakkal kepada Allah.
Jika semua anugerah milik mutlak Allah, maka menjadi ringan jika tumbuh kesadaran untuk berserah diri dan menyerahkan semuanya kepada kehendak Allah, sebagai pemilik mutlak. Tentu sikap tawakkal ini muncul setelah berusaha dan berdo’a, ketika menghadapi ujian. (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 159. Yunus [10]: 84. Al-Ahzaab [33]: 48).

3. Membangun kesadaran Allahu ash-shamad.
Ketika menghadapi ujian, manusia mau lari kemana kalau bukan kepada Allah (Q.S. Al-Maidah [5]: 48 dan At-Takwir [81]: 26), karena Allah tempat bergantung menyandarkan segala harapan. Allahu ash-shamad adalah garansi Allah bagi orang beriman dan orang yang sabar dan salah satu bukti tingginya aqidah seseorang adalah bergantung pada Allah dan tidak bergantung pada mahluk
“Hai manusia, kamulah yang sangat butuh kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Q.S. Fathir [35]: 15).

4. Membangun tekad untuk menolak segala bentuk kemusyrikan.
Istirja’ menuntun orang beriman untuk hanya memohon pertolongan, kekuatan kepada Allah, sehingga terbebas dari segala bentuk kemusyrikan. Hal ini tidak dimiliki oleh orang musyrik yang tidak memiliki keimanan.

5. Membangun kesadaran menerima ujian.
Segala ujian, musibah, datangnya tidak pernah diundang oleh orang beriman dan kehadiranya juga tidak dapat ditolak, maka istirja’ menuntun orang beriman untuk menerima ujian dengan tenang dan lapang dada.

6. Memperkuat keimanan dan kesabaran.
Iman dan kesabaran semakin kokoh dengan istirja’, karena adanya keyakinan bahwa iman dan sabar tidak akan diketahui oleh manusia tanpa melalui ujian, dan ujian merupakan syarat untuk naik kelas keimanan dan kesabaran.

7. Ikhlas menerima sunnatullah.
Sunnatullah atau hukum yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai Al-Khaliq (pencipta) bagi makhluq (ciptaan) merupakan hukum yang tidak dapat dihindari oleh makhluq.

8. Revitalisasi semangat jihad.
Semangat dan bersungguh-sungguh dalam menghadapi ujian bernilai jihad di hadapan Allah, karena Allah tidak hanya menilai hasil setiap perjuangan, namun Allah juga menilai proses perjuangan dalam menghadapi ujian.

9. Mengunci rapat mengingkari qadarullah.
Qadarullah atau ketetapan Allah tidak dapat diingkari, apalagi didustakan. Sakit tidak dapat dingkari apalagi didustakan, penyakit juga tidak dapat diingkari apalagi didustakan, karena realitasnya semua orang yang pernah sakit dan dirawat di rumah sakit tidak ada yang dapat mengingkari dan mendustakan qadarullah yang bernama sakit. Kecanggihan teknologi dalam dunia kedokteran tidak mungkin berkembang tanpa adanya penyakit, maka semakin berkembangnya varian suatu penyakit menunutut para ahli untuk menemukan teknologi yang lebih canggih untuk menghadapi berbagai jenis penyakit.

10. Motivasi meraih mardhatillah.
Puncak makna dan hikmah istirja adalah untuk meraih ridha Allah, siapapun ketika menghadapi ujian memiliki pondasi iman dan sabar, niscaya Allah akan memberikan ridha-Nya serta memberi balasan yang tidak terhingga, sehingga orang yang sabar akan mendapat balasan tanpa batas. Allah berjanji: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (QS. Az-Zumar [39]: 10).
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِيْ وَلَمْ يَصْبِرْ عَلَى بَلَائِيْ فَلْيَلْتَمِسْ رَبًّا سِوَايَ.
Rasulullah saw. bersabda, “Allah swt. berfirman, “Siapa yang tidak ridha dengan keputusan-Ku dan tidak sabar atas ujian-Ku, maka hendaklah ia mencari Tuhan selain Aku.” (HR. At-Thabarani dari sahabat Abu Hindi Ad-Dari r.a.).

Subhanallah, hanya ajaran Islam yang membimbing manusia beristirja’ kepada Allah, hanya satu kalimat istirja’ mampu membimbing manusia meraih kemulyaan yang tidak terhingga, baik di dunia maupun di akhrat kelak.

Makna dan hikmah istirja’ ketika menghadapi ujian ini, penulis temukan ketika menjalani perawatan di Rumah Sakit Universitas Brawijaya selama 7 hari. Semoga renungan ini bermanfaat untuk kita semua, sehingga senantiasa siap menghadapi ujian untuk meraih mardhatillah. Aamiin.