Ditulis pada tanggal 15 Pebruari 2018, oleh admin, pada kategori Berita, Buletin Universitas Brawijaya

Bulan suci Ramadhan merupakan kesempatan bagi setiap hamba Allah untuk lebih meningkatkan ketaqwaan, dikarenakan bulan ini memiliki beberapa kemuliaan dan keutamaan. Ramadhan merupakan syahrul Qur’an sebagaimana firman Allah: “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk tersebut dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). (QS. Al-Baqarah: 185).

Pada ayat tersebut, Allah menjelaskan hikmah pengkhususan beribadah dan berpuasa dalam bulan Ramadhan, karena pada bulan ini Allah menurunkan hidayah terbesarnya yaitu Al-Qur’an, sebagai ilmu dan pengetahuan, sebagai penunjuk jalan (kehidupan) serta norma untuk berpijak. Kemuliaan ramadhan merefleksikan kemurahan Allah dalam melimpahkan hidayah, Rahmah dan ampunan kepada hambaNya. Oleh karenanya, kaum muslimin diperintahkan untuk melakukan ibadah kepada Allah yang tidak dikerjakan dalam bulan-bulan yang lain.

Kebenaran serta petunjuk Al-Qur’an dalam mengatasi pelbagai problematika kehidupan memberi bukti nyata bahwa Allah telah mengarahkan kita, dangan memberi ayat-ayat yang berupa tuntunan (al-huda) dan cahaya kebenaran (al-furqan), yang membedakan antara yang benar dan bathil. Karena itu, Allah mensifatkannya sebagai pedoman hidup untuk sekalian manusia sebagaimana difirmankan Allah dalam surat Al Maidah: 15. Cahaya Al Qurán ini memiliki tiga manfaat;

1.      Allah SWT, memberikan petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya menuju jalan keselamatan.

2.      Mengentaskan manusia dari priode kehidupan jahiliah.

3.      Memberikan petunjuk kepada mereka menuju ke jalan yang lurus (Shiraath Mustaqiim).

Allah SWT memuliakan kaum muslimin dengan drajat kemuliaan yang luar biasa agungnya, ketika Al-Qur’an diturunkan dan Allah menjadikannya sebagai petunjuk sekaligus cahaya penerang. Sudah sepatutnya kita sebagai kaum muslimin mengambil posisi sebagai pengawas dan pemantau terhadap Al-Qur’an. Kita harus dapat memberikan haknya yang telah diwajibkan oleh Allah SWT atas diri kita, serta memelihara nikmat yang agung ini sebagai nikmat hidayah yang abadi, yang bersifat umum dalam segala hal, baik nikmat kemuliaan, kepemimpinan, dan kehormatan.

Dengannya akan tercapai pengetahuan yang shahih terhadap berbagai kebenaran serta dapat membedakan pula yang buruk dari yang baik, dan yang jujur dari yang munafik. Dengan nikmat ini pula terwujud kesatuan yang sejati lagi sempurna bagi seluruh umat. Berulangnya bulan ini pada setiap tahunnya disebutkan oleh Al-Qur’an dengan undang-undang persatuan yang abadi, sebuah Kitab yang selalu dibaca. Barangsiapa yang berpegang padanya maka ia akan selamat, dan barangsiapa yang mengikutinya maka ia akan mendapatkan petunjuknya, dan barangsiapa yang menyimpang darinya maka dia akan tersesat. Barangsiapa yang berhukum dengannya maka dia akan bersikap adil. Dan barangsiapa yang berbicara dengannya maka dia akan berbicara dengan benar, ia adalah tali Allah yang kuat dan jalan-Nya yang lurus serta petunjuk-Nya yang abadi bagi manusia secara keseluruhan.

Turunnya Al-Qur’an pada bulan Ramadhan merupakan sugesti yang sangat kuat bagi umat Muslim untuk banyak membaca dan mengkajinya, karena pada hakikat dan realitasnya bulan Ramadhan merupakan bulan Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 185). Betapa indahnya halaqah-halaqah kajian Al-Qur’an yang dikumandangkan di masjid-masjid sepanjang bulan tersebut. Kaum muslimin pun berbondong-bondong mendatanginya untuk mencari hidayah, hikmah, dan cahaya di pelataran rumah-rumah Allah. Faktor penyebabnya tidak lain karena Al-Qur’an memiliki rasa yang khusus pada bulan Ramadhan, karena ia akan mengingatkan kenangan saat ia turun dan hari-hari pengkajiannya.

Dari Imam Malik rahimahullah, bahwasanya beliau jika Ramadhan datang, halaqah-halaqah ilmu, kajian dan pemberian fatwa dihentikan sementara. Dan beliau mengatakan, “Ini bulan Ramadhan sehingga kita harus berkonsentrasi dengannya (Al-Qur’an)”. Para ulama Salaf terdahulu dalam mempelajari dan mendalami Al-Qur’an lebih intensif dari bulan-bulan lainnya. Ash-Shaum. ‘Abdurrahman ad-Dausari (hal. 52-53). Pada bulan Ramadhan dari setiap tahun, hendaknya hubungan seorang muslim dan Kitabullah (Al Qur’an) selalu mengalami pembaharuan, sehingga Ramadhan akan disambut dengan bacaan, pendalaman, pemahaman, perhatian, pembenaran dan pengamalan Al-Qur’an.

Pada saat membacanya, Al-Qur’an memiliki beberapa adab yang harus dipelihara dan dipegang teguh oleh setiap muslim. Yang terpenting di antaranya adalah:

1.      Membaca Al-Qur’an dengan niat tulus ikhlas karena Allah “Padahal mereka tidak dperintah melainkan agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus” (Al Bayyinah: 5)

2.      Membaca dengan menghadirkan hati sambil mencermati dan memahami, khusyu’, takut dan merasa seakan-akan Allah berbicara langsung kepadanya dalam Al-Qur’an

3.      Membaca Al-Qur’an dalam keadaan suci

4.      Tidak membaca Al-Qur’an di tempat-tempat yang kotor

Dan masih banyak lagi adab-adab yang harus diperhatikan oleh pembaca Al Qur’an.

Bacaan dan kajian terhadap Al Qur’an memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap jiwa untuk melakukan perbaikan dan penyucian, yang berkonsekuensi pada penerimaan seorang hamba dan pendekatannya kepada Rabb-nya Azza wa Jalla. Oleh karena itu, orang-orang shalih sepanjang perjalanan zaman selalu memperbanyak bacaan Al Qur’an sepanjang bulandan terkhusus pada bulan Ramadhan.

Al Qur’an adalah kitab umat Islam yang abadi, yang menyelamatkan mereka dari kegelapan menuju sinar yang terang benderang. Menumbuhkan keyakinan tauhid, serta menggantikan rasa gundah dengan rasa ketentraman. petunjuknya memberikan tempat bagi manusia di muka bumi ini, serta cahayanya memberikan sinar dan sendi untuk menjadi umat yang unggul dan terbilang. Maka wujud dari rasa syukur kepada Allah Ta’ala atas nikmat al-Qur-an ini adalah minimal dengan memenuhi seruan Allah untuk berpuasa pada bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an.

Jika waktu atau tempat mempunya kadar kemuliaan yang berbeda, maka perbuatan baik yang dilakukan pada bulan ramadhan seperti; shadaqah, qiyamul lail, membaca Al Qur’an, i’tikaf, dan umrah Menjadi  lebih baik daripada dikerjakan di bulan-bulan lainnya. Nabi Muhammad SAW, sebagai pribadi Quráni berusaha dengan sungguh-sungguh pada bulan Ramadhan beribadah lebih gigih daripada bulan-bulan lainnya. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Di antara kemuliaan perbuatan Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan adalah memperbanyak berbagai macam ibadah, dan beliau juga menjadi orang yang paling dermawan, Hal itu tercermin di mana beliau banyak bershadaqah, berbuat baik, membaca Al Qur’an, shalat, dzikir, dan i’tikaf.  Zaadul Ma’aad (II/32)

Dengan kita mampu memahami makna diturunkannya Al Qurán pada bulan suci Ramadhan, semoga bertambah pula kecintaan, kegemaran dalam membaca dan mengimplementasikan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita dapat mencapai derajat taqwa dan menjadi hamba yang diridhoi Allah SWT, Wa Allahu álam bi Showab,  (In’amul Wafi, M.Ed Dosen PAI, Sekretaris PPA UB)