Ditulis pada tanggal 21 Pebruari 2018, oleh admin, pada kategori Berita, Buletin Universitas Brawijaya

Sejarah hidup An-Nawawi termasuk di antara “ayat Allah” tentang berkahnya waktu dan umur seorang hamba. Beliau sendiri bertestimoni bahwa memang ada “campur tangan Allah” yang membuat waktu, aktivitas dan umurnya menjadi penuh berkah, efektif dan efisien”. Beliau berkata,

“Allah memberkahi waktu dan kesibukan saya. Dia juga membantu aktivitas saya …(Tuhfatu Ath-Tholibin, hlm 50)

Pada tahun 649 H, yakni pada di usia 19 tahun beliau baru mulai merantau menuntut ilmu. “Nyantri” dan “mondok” kira-kira istilahnya jika memakai sebutan pada zaman sekarang. Tempat berlabuh beliau waktu itu adalah sebuah “ponpes” bernama Al-Madrosah Ar-Rowahiyyah yang berlokasi di sebelah timur masjid Ibnu ‘Urwah. Sekitar 11 tahun beliau menghabiskan waktu untuk menuntut ilmu. Muridnya, Ibnu Al-‘Atthor menceritakan bahwa An-Nawawi di masa itu setiap hari selalu menghadiri dan melahap ilmu dari 12 matakuliah kuliah “berat” dengan pembimbing berkualitas yang pada zaman sekarang mungkin setaraf profesor atau bisa jadi malah di atasnya. Beliau belajar berbagai macam kitab dalam bidang fikih, hadis, nahwu, tashrif, matnul lughoh, ushul fikih, sejarah dan ushuluddin.

Tidak ada waktu yang disia-siakan oleh beliau. Saat berada di jalan menuju tempat belajar atau pulang sekalipun, kesempatan itu beliau gunakan untuk mengulang-ulang hafalan, atau muthola’ah atau muroja’ah materi yang telah dipelajari.

Dari sini sudah mulai terasa berkahnya waktu beliau. Jika tiap kuliah kita asumsikan memerlukan waktu paling sedikit satu jam, maka dalam sehari durasi belajar An-Nawawi minimal adalah 12 jam. Lalu bagaimana waktu beliau untuk muroja’ah materi dan mengahafalkan? Bagaimana dengan waktu tidur? Bagaimana dengan waktu makan dan minumnya? Bagaimana dengan waktu mandi, membersihkan pakaian, membersihkan tempat tinggal dan semua kegiatan bersih-bersih yang tidak mungkin dihindari itu? Bagaimana dengan waktu untuk ibadah, tahajjud, dzikir, munajat dan semua ragam taqorrub yang mana An-Nawawi juga terkenal dengan ibadahnya yang kuat dan sikap zuhudnya yang menjadi teladan?

Benarlah, bahkan sangat benar jika dikatakan waktu An-Nawawi benar-benar sangat berkah. Seakan-akan produktivitas ilmu yang bisa dilakukan orang jenius dalam waktu dua tahun, semuanya bisa dilakukan An-Nawawi dalam satu tahun. Keberkahan waktu ini menjadi satu-satunya alasan logis jika diukur dengan produktivitas karya tulis An-Nawawi yang sangat banyak dengan kualitas yang luar biasa dan ditulis dalam waktu yang sangat singkat.

Dengan cara belajar yang ketat disiplin dan tekun semacam itu, tidak heran jika An-Nawawi memperoleh hasil yang luar biasa. Kitab At-Tanbih karya asy-Syirozi mampu beliau hapal dalam waktu 4,5 bulan. Al-Muhadzdzab bagian ibadah semuanya dihapalkan pada sisa tahun itu.

Pada tahun 660 H, yakni kira-kira di usia 30 tahun beliau mulai menulis sampai akhir hayatnya. Beliau wafat pada tahun 676 H dalam usia sekitar 45 tahun. Jadi, praktis sekitar 15 tahun dari umurnya beliau habiskan untuk menulis buku. Total seluruh karyanya 58 buah. Semuanya berkualitas tinggi. Dengan menghitung masa belajar 11 tahun dan masa menulis sekaligus mengajarkan selama 15 tahun, berarti aktivitas ilmiah beliau kira-kira menghabiskan waktu 26 tahun.

Dengan karya sedemikan banyak dan bermutu, ada yang pernah mencoba menghitung produktivitas An-Nawawi dikaitkan dengan umur beliau yang pendek. Setelah dihitung, dengan jumlah karya 58 buku dengan waktu penulisan 15 tahun, maka kira-kira dalam sehari beliau menulis rata-rata sebanyak dua kurrosah

Definisi kurrosah menurut Al-Mu’jam Al-Wasith adalah semacam buku kecil (booklet) yang dicontohkan terdiri dari 10 waroqoh. Dalam Mu’jam Ar-Ro-id, 10 waroqoh itu kalau dalam ukuran kertas cetak sekarang kira-kira sebanyak 8 atau 16 halaman. Jadi, satu kurrosah di zaman sekarang kira-kira adalah seukuran penulisan satu artikel/makalah dalam jurnal. Jadi An-Nawawi (jika memakai standar penulisan di dunia kampus pada zaman sekarang) setiap hari menghasilkan kira-kira dua artikel dalam jurnal berkualitas internasional!

Bayangkan. Di dunia kampus, lahir satu artikel yang diterbitkan jurnal internasional setiap satu semester saja sudah dihitung produktvitas yang sangat bagus. An-Nawawi rahimahullah memproduksi kira-kira dua artikel/makalah setiap hari!

Bisakah menjadi ibrah bagi anak muda?

Anda yang berusia 20 tahunan, adalah niat mulia jika ingin memberi manfaat ke pada kaum muslimin dengan menjadi An-Nawawi kedua. Jika menyamai An-Nawawi dianggap terlalu ambisisus, mencapai 1/10 beliau saja di zaman sekarang sudah luar biasa.

Tentu saja Anda harus memiliki memiliki kedisiplinan dan ketekunan setinggi An-Nawawi. Juga harus siap menghilangkan semua hal yang mengalihkan perhatian dan menumpulkan ketajaman pikiran. Tidak memuja cinta, memburu kemewahan, mencari kesenangan dunia atau memuaskan hawa nafsu. Yang terpenting dari semua itu, niat tersebut harus didorong pada niat yang ikhlash, murni beramal karena ingin meraih ridha-Nya. Karena salah niat dari awal, buahnya akan tampak pada saat sudah mulai beramal. Wallahu a’lam bishawab. (M. Rohma Rozikin, S.Pd., M.Pd Dosen PAI Universitas Brawijaya)