Ditulis pada tanggal 5 Juni 2017, oleh admin, pada kategori Berita, Buletin Universitas Brawijaya

Bismillahirrahmanirrahim

 

PILIHAN RAGAM SIKAP BERPUASA DI BULAN SUCI RAMADHAN 

Siti Rohmah, M.HI *


Bulan suci Ramadhan merupakan satu-satunya bulan yang sengaja didesain oleh Allah sebagai upaya percepatan dan kesempurnaan buat para hambaNya. Bahkan sejarah mencatat Ramadhan dijadikan sebagai titik tolak peradaban umat manusia dengan diturunkannya al-Quran dan kitab-kitab suci besar seperti Zabur, Taurat dan Injil pada bulan tersebut. Sehingga sebagai espektasinya Ramadhan harus mampu menjadi titik tolak transformasi peradaban umat manusia melalui peningkatan kualitas kesalehan individu dan kesalehan sosial.

Upaya percepatan kualitas kesalihan individu dan kesalihan sosial tersebut dikonfigurasikan oleh Allah dengan syariat ibadah puasa pada Bulan suci Ramadhan. Ibadah Puasa merupakan salah satu ibadah yang paling disenangi Allah. Sehingga Allah sendiri yang punya otoritas untuk memberikan pahala kepada hamban-Nya yang berpuasa. Oleh karenanya Ibadah puasa dijadikan sebagai alat uji percepatan kualitas kesalihan manusia. Hal itu sudah berjalan selama ratusan abad silam. sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah SWT;

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kamu. Supaya kamu bertaqwa. (QS. Al-Baqarah: 128)    

Tidak heran bila dalam konteks kekinian selebrasi menyambut bulan suci Ramadhan (Marhaban ya Ramadhan) begitu meriah diucapkan dan diekspresikan oleh jutaan umat muslim di dunia. Ucapan dan ekspresi “Marhaban ya Ramadhan” awalnya dominan bermotif teologis karena keistemewaan bulan suci tersebut lebih baik daripada seribu bulan. Bahkan Allah dalam banyak narasi hadist menjanjikan obral dan diskon pahala secara besar-besaran pada bulan tersebut.  Oleh karena itu, tidak heran jika masjid-masjid mendadak sesak berjubel para jamaah yang hendak sholat tarawih dan beri’tikaf bahkan suara tadarus saling bergemuruh dan bersautan menjadi pemandangan rutin dan biasa di bulan Suci Ramadhan.

Pada aras yang sama ibadah puasa menjadi ibadah paling inti di bulan suci tersebut (syahru shiyam). Puasa adalah ibadah yang paling berat namun menjadi ringan karena dilakukan secara massal dan penuh euforia oleh umat muslim di bulan suci Ramadhan. Puasa dalam perspektif fiqih berarti menahan diri untuk tidak makan dan minum serta berhubungan suami istri mulai dari terbit fajar hingga tiba waktu maghrib.

Namun, kualitas puasa seseorang tidak cukup hanya dimaknai secara fiqhiyah an-sich, akan tetapi puasa juga harus dimaknai dalam makna teologisnya. Yaitu berpuasa dengan cara melatih pengendalian individu dan kepekaan sosial (Moeslem Abdurrahman: 2007). Puasa acapkali hanya mampu menjadi piranti kesalihan untuk dirinya saja. Namun gagal diterjemahkan  sebagai piranti penting dalam melatih kepekaan sosial. Padahal Rasulullah sudah mengingatkan kepada para umatnya bahwa barangsiapa yang melaksanakan puasa di bulan suci Ramadhan dengan totalitas keimanan dan refleksi yang luhur maka Allah akan mengampuni dosa-dosa hambaNya beberapa tahun yang lalu” (man shaama ramadhaana iimaanan wahtisaaban ghufiro lahu maa taqaddama min dzanbih). Janji teologis tersebut tidak akan terwujud dengan maksimal manakala puasa tidak mampu menjadi piranti perubahan sosial secara transformatif.

Salah satu bentuk kegagalan sebagian umat Isam hari ini dalam menyikapi puasa di bulan suci Ramadhan adalah ketidakmampuan mereka untuk melandingkan nilai transendensi ibadah puasa ke dalam konteks transformasi sosial. Rasa lapar dan dahaga yang dirasakan oleh umat Islam harusnya mampu menjadi reminder atau alarm kesadaran untuk tidak melakukan kezaliman dan dispotisme ketika kita sedang dalam posisi sebagai atasan atau pembuat kebijakan. Kita sebagai umat Islam acapkali lupa bahwa banyak kaum mustadh’afin di sekitar kita yang setiap hari mereka berpuasa di luar bulan Ramadhan tanpa harapan untuk berbuka. Para buruh tani dan rakyat miskin kota menggantungkan nasib rezekinya sejak subuh hingga petang tanpa ada kejelasan upah dari para majikannya. Inilah yang disebut Friedman sebagai kemiskinan struktural. Pada aras yang sama kemiskinan kultural juga masih menghiasi negeri ini, seperti nasib para kakek dan nenek jompo yang hidup sebatang kara yang dalam kehidupan sehari-harinya mereka hanya menggantungkan diri dari belas kasihan warga dan uluran sembako dari pemerintah.

Sementara kita, pada aras yang berbeda melakukan ibadah puasa hanya di bulan suci Ramadhan saja, itupun dengan potensi harapan berbuka yang berlebihan. Bukti lain bahwa puasa itu mempunyai relevansi kuat dengan kesalihan sosial adalah bahwa bagi seorang muslim yang sengaja membatalkan puasa di bulan suci Ramadhan maka kafaratnya adalah memabayar fidyah dengan cara memberikan makan orang miskin. Pada kondisi inilah elan vital puasa sebagai piranti kesalihan sosial penting untuk diperhatikan.

Upaya menjadikan bulan puasa sebagai cita dalam membangun kesalihan sosial ternyata sering kali tidak berbanding lurus dengan potret sebagian muda-mudi sekarang dalam menyambut bulan Suci Ramadhan. Muda-mudi hari ini jusru mengalami distorsi pemaknaan puasa yang jauh dari cita bulan suci Ramadhan itu sendiri. Boro-boro puasa dijadikan sebagai piranti membangun kesalihan sosial, kesalihan individu saja acap kali tidak tercapai. Mereka para muda-mudi hanya menjadikan puasa Ramadhan sebagai ajang kontestasi untuk mengekspresikan hasrat euforianya sebagai makhluk yang suka festival (homofestivus)  di bulan Suci Ramadhan.

Tidak sedikit dari umat Islam yang hanya menjadikan ibadah puasa sebagai festival tahunan, yang lebih mengedepankan dan menonjolkan sisi euforia budayanya ketimbang pesan moralitasnya. Budaya buka bersama yang menonjolkan kemewahan dan gaya glamour. Budaya ngabuburit atau jalan-jalan menjelang berbuka puasa yang acapkali identik dengan budaya konsumtif berlebihan. Budaya ngemall dengan berbelanja pernak-pernik Ramadhan yang berlebihan. Hal tersebut menjadi kesenangan dan kegandrungan tersendiri. Budaya menyalakan petasan dan kembang api lebih semarak ketimbang tadarus. Budaya membangunkan sahur keliling dan acapkali sholat subuhnya terabaikan. Realitas yang demikian sudah pernah dikhawatirkan oleh Rasulullah SAW dalam hadist yang diriwayatkan oleh Muttafaqun alaih, “ Berapa banyak orang yang melakukan puasa di bulan Suci Ramadhan yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali hanya rasa lapar dan haus saja.” Padahal, keberhasilan ibadah puasa dinilai dari sejauh mana efeknya terhadap peningkatan kualitas ketakwaan seorang hamba.

Narasi di atas merupakan realitas eskis yang acapkali tercermin dalam sikap umat Islam dalam menyikapi bulan suci Ramadhan. Sebagai umat Islam kita harus bijak dalam menentukan sikap untuk menyambut bulan suci Ramadhan ini. Mementingkan aspek kesalihan individu saja dengan mengesampingkan kesalihan sosial tentunya tidak bisa dibenarkan. Hal itu akan berdampak pada keringnya makna dan ruh puasa Ramadhan sebagai titik tolak peradaban manusia. Begitu pula sebaliknya, mementingkan aspek kesalihan sosial saja tanpa upaya meningkatkan kesalihan individu akan menjadikan sakralitas puasa sebagai salah satu rukun Islam akan hilang terdekonstruksi oleh pengabaian orientasi kesalihan individu. Lebih Parahnya lagi, ketika kita sebagai umat Islam abai tehadap keduanya dan hanya mementingkan aspek budaya-budaya festivus puasa dengan ragam kultur dan kebiasaan yang sudah melembaga kuat dalam tradisi berpuasa di negeri ini. Tidak ada yang salah dengan euforia Ramadhan, asal tidak berlebihan dan bahkan sampai menggusur esensi Ibadah di bulan Ramadhan.

Semoga bulan suci Ramadhan tahun ini kita mampu memaknai ruh ibadah puasa kita sebagai spirit untuk meningkatkan kualitas kesalihan individu sekaligus kesalihan sosial, tanpa berpretensi  mengurangi sedikitpun euforia menyambut bulan suci Ramadhan dengan semarak budaya khas keindonesiaan. Wallahua a’lam

 *Dosen PAI Universitas Brawijaya.