Ditulis pada tanggal 15 Pebruari 2018, oleh admin, pada kategori Berita, Buletin Universitas Brawijaya

Sebagaimana diketahui bahwa tujuan akhir dari shaum  (berpuasa) adalah membentuk orang beriman menjadi “muttaqin” (orang yang bertakwa) (QS : Albaqarah : 183). Adapun tanda-tanda muttaqin itu ialah : mereka yang segera memohon ampun (taubat) berintak baik keadaan lapang maupun sempit, menahan amarah, memaafkan kesalahan orang, segera mengingat Allah (Zikrullah) ketika berbuat keji atau menzalimi diri sendiri, dan tidak meneruskan perbuatan dosa (QS Albaqarah : 133-135)

Memahami tanda-tanda muttaqin sebagaimana tersebut diatas sepintas rasanya cukup sederhana (simple). Tetapi sesungguhnya tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan. Karena didalamnya ada persoalan-persoalan mendasar, yaitu membangun kesadaran tulus untuk melakukan itu semuanya. Sebab, tanpa itu kita sepertinya sedang menggambar diatas pasir, sebentar muncul, sesudah itu hilang karena tertiup angin. Disinilah membangun kesadaran tulus untuk berbuat baik sesudah terlanjur itu menjadi sangat penting. Persoalannya adalah bagaimana membangun kesadaran tulus tersebut ? Pertama dan sangat utama adalah ikhlas menjalani hidup dengan berbagai dinamikanya. Pada tahap ini, bila kita mendapat nikmat maka bersyukurlah, jika memperolah ujian? Cobaan maka nikmatilah ujian tersebut dengan sabar dan syukur. Kedua juga menjadi sangat penting adalah berusaha berusaha untuk bermuhasabah, yaitu upaya sadar merenung, menghitung kelemahan diri sendiri, ketimbang mencari kesalahan dan kelemahan orang lain. Dalam tataran ini, kita diminta untuk lebih banyak melihat kelemahan diri sendiri dan menghargai kelebihan orang lain. Gus Mustofa Bisri, sastrawan kenamaan dari kalangan Nahdhiyin pernah mengatakan : Bahwa orang baik itu ialah mereka yang selalu membawa dua cermin dalam hidupnya. Satu untuk melihat kelemahan diri sendiri dan satu lagi untuk melihat kelebihan orang lain. Alangkah indahnya kalau kita bisa menangkap sinyal tersebut itu dan mau mengamalkannya. Tugas kita adalah bagaimana menemukan antara idealitas dengan realitas atau dalam bahasa Al-Qur’an menemukan iman dengan amal shaleh dalam satu kesatuan paket yang tidak dan tak terpisahkan dalam kehidupan. Maka, muttaqin tetap menjadi milik kita secara abadi.

Persoalan yang timbul kemudian adalah: apakah kita mampu berbuat untuk menjaga dan merawatnya supaya muttaqin tetap terintegrasi dalam kepribadian orang beriman? Mengapa ini menjadi pertanyaan penting untuk memperoleh kita bagaimana menampilkan kepribadian yang utuh dan otentik sebagai muttaqin dalam kehidupan se-hari-hari.

Dejure maupun defacto seringkali memperlihatkan penampilan kepribadian yang tidak utuh atau spilt personality. Penampilan seperti suka atau tidak suka menimbulkan ketidakpercayaan (distrust) orang lain pada kita sendiri. Dampak turutan yang panjang akan ikut memperpanjang persoalan baru dalam kehidupan kita. Maka jawaban pertanyaan tersebut adalah: “Dan (juga) pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. Al-Zariyat:21) Pesan moral yang terkandung dalam tersebut sungguh luar biasa untuk direnungkan kemudian diimplementasikan pada diri kita  maka hasilnya sudah pasti akan lahir sosok-sosok pribadi muttaqin yang secara istiqamah menjadi hidup ini dengan baik dan berkeunggulan.

Pada perspektif seperti inilah keberadaan muttaqin dalam kelangsungan hidup mereka sebagai penjaga gawang peradaban manusia. Dengan demikian maka defisit moral yang diderita oleh kebanyakan manusia akan berganti dengan pribadi yang bermoral tinggi. Yaitu pribadi yang berakhlak mulia memegang teguh tata krama kehidupan sebagaimana yang diajarkan agama . atau dalam pengertian lain pribadi muttaqin adalah sosok figur yang shalih secara pribadi sekaligus shalih secara sosial.

Kehidupan global seperti terjadi saat ini maupun akan datang sangat memerlukan insan-insan shalih pribadi dan sosial. Sebab, ditangan merekalah terjaga peradaban modern yang seringkali dianggap melampaui batas, atau keluar dari koridor agama. Tanpa mereka itu, maka hidup ini seperti sibuta dari gua hantu, menabrak menerjang siapa saja dan dimana saja,atau dunia bagaikan lorong gelap (black hole) yang membuat orang sesat dan meyesatkan.

Muttaqin adalah solusi dari zaman kegelapan menuju pencerahan yang berkepribadian agama. Muttaqin juga menjadi obor kehidupan masyarakat baru sesudah tersesat dari jalan kebenaran. Bahkan hanya sosok muttaqin sajalah yang bisa diandalkan menjadi generasi pemberi rahmat pada kesemestaan manusia. Semoga! (Prof. Dr. Thohir Luth, MA - Guru Besar Hukum Islam FH UB)