Ditulis pada tanggal 21 September 2018, oleh admin, pada kategori Berita, Buletin Universitas Brawijaya

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam.” HR. Bukhari dan Muslim

Bukankah lebih banyak orang yang menyesal, sebab ia tidak bisa menarik lagi apa yang telah ia katakan? Perkataan yang terlontar itu ibarat sebuah panah yang telah terlepas, maka ia akan melesat jauh. Memasuki telinga, serta mampu mencederai hati.

Saat lidah seorang gurbernur salah mengucapkan hal agama meskipun dia sendiri tidak bermaksud demikian, maka hal itu fatal baginya, sebab ia dilihat dan didengar banyak orang. Ia telah menyakiti hati umat Islam. Lalu mengapa lidah kita dipenjara oleh gigi? Kemudian ditambah lagi dengan penjagaan oleh mulut. Hal ini berarti bahwa lidah begitu berbahaya.

Kita memang tidak boleh menilai-nilai orang lain. Tetapi orang lain mau tidak mau, suka tidak suka tetap ia akan menilai kita. Karenanya menjaga lisan ialah untuk menyelamatkan kita dari penilaian buruk, disebabkan lisan yang terjaga. Lisan yang lepas dan tak terjaga bisa sangat membahayakan.

Orang yang berpikir lebih dahulu sebelum bicara, maka ia akan selamat dari bahaya lisan. Berbicara merupakan karunia dari Allah Swt. yang harusnya digunakan untuk kebaikan. Tapi kadang kita memang lebih suka membicarakan hal yang buruk.

Orang yang suka sekali berbicara hal-hal tidak penting, maka ia bisa terjerumus dalam keburukan. Karena pada saat berbicara ada pamer, riya, ujub. Bahkan ia tak sengaja membicarakan mengenai orang lain, entah itu benar atau salah. Kemudian seringkali membesarkan-besarkan masalah, mengeluh, curhat kepada orang yang tidak mampu menyelesaikan masalahnya. Karena bila manusia dijadikan sebagai tempat berharap, maka hanya kecewa yang akan kita dapatkan.

Dampak dari perkataan yang diucapkan, sebenarnya mampu mengubah nasib orang lain. Kalimat baik dapat menginspirasi orang bergerak menuju pada kebaikan. Dan kalimat yang buruk akan memicu kemarahan maupun keburukan lainnya. Pikirkan apa yang akan kita sampaikan bermanfaat atau tidak.

Diam bukan hal terbaik, karena berkata yang baik lebih utama daripada diam. Tapi menahan bicara akan menyelamatkan. Menahan bicara dapat terlindung dari setan. Sebab ketika banyak bicara setan bisa masuk, akhirnya kita tidak menyadari apa yang diucapkan. Orang yang pikirannya ada pada mulutnya, bisa-bisa kalimatnya suatu saat akan melukai hati orang lain.

Dari Abu Dzar ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Hendaklah engkau (banyak) diam, karena sikap diam itu bisa mengusir setan darimu, serta menjadi pembantu bagimu dalam urusan agamamu.”

Kenapa diam lebih utama?  Karena dengan diam kita akan mampu menyelamatkan diri kita dan orang lain. Menyelamatkan dari keburukan. Tetapi bukan berarti kita diam dalam menyampaikan kebenaran dan kebaikan. Seperti Rasulullah saw. beliau memilih diam, tapi bukan berarti beliau tidak bisa berbicara dengan baik. Kefasihan beliau berbicara mampu mempengaruhi batin dan menginspirasi umat Islam.

Abdullah bin Amr Ra. berkata, “Rasulullah Saw. bersabda, ‘Seorang muslim adalah orang yang (membuat) kaum muslimin selamat dari lidah dan tangannya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Beliau menyampaikan kalimat yang singkat, dengan makna yang luas, jawami’ al-kalim. Beliau tidak begitu suka pada orang banyak bicara. Karena banyak bicara akan membuat hati menjadi keras. Dan bila hati keras, maka ia akan jauh dari Allah. Hati batu akan membuat orang-orang tidak menyukai kita. Oleh karena itu diam ialah solusi bila kita belum mampu sampaikan kebaikan.

Dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar Ra., ia berkata, “Rasulullah Saw. bersabda, “Janganlah kalian banyak bicara tanpa berzikir kepada Allah, sebab banyak bicara tanpa berzikir kepada Allah akan membuat hati menjadi keras. Sesungguhnya orang yang paling jauh dari Allah ialah orang-orang yang berhati keras.”  (HR. At-Tirmidzi)

Orang yang terlalu banyak bicara, akan muncul kebohongan dalam perkataannya. Karena setiap perkataannya tak disadarinya. Karena ia tidak tahu apa yang ingin ia katakan, maka ia bisa melebih-lebihkan. Dan bukankah Nabi saw. mengingatkan kepada kita bahwa kejujuran akan membimbing pada kebaikan? Dan kebohong menuntun kita pada kebinasaaan.

Dari Ibnu Mas’ud Ra., Nabi Saw. bersabda, “Sesungguhnya kejujuran akan membimbing pada kebaikan, dan kebaikan akan membimbing ke surga. Sesungguhnya jika seseorang senantiasa berlaku jujur, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya kebohongan itu akan mengantarkan kepada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan itu akan menggiring ke neraka. Dan sesungguhnya jika seseorang selalu berdusta, maka akan dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Bukhari)

Kita belum menyadari bahwa kita masih diberikan karunia agar bisa bicara, maka gunakan kesempatan ini untuk menyampaikan kebaikan. Sementara disisi lain, ada orang yang Allah Swt. takdirkan tidak dapat berbicara, tidak dapat menyampaikan kebaikan lewat lisan. Hal ini sebagai pelajaran dan renungan bagi kita. Bahwa kita diberikan karunia dan kesempatan untuk berbuat kebaikan. Teman-teman kita yang tunawicara, mereka tetap bisa melakukan kebaikan melalui tindakan. Oleh karena itu syukuri bisa menyampaikan kebenaran dan kebaikan melalui lisan kita.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Lihatlah orang yang berada di bawah kalian. Jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepada kalian.” HR. al-Bukhari dan Muslim

Sebelum kita berbicara, pikirkan terlebih dahulu, apakah hal yang akan kita katakan menimbsulkan mudharat atau dampak negatif. Bila tidak, silahkan kita berbicara. Sementara bila menimbulkan kenegatifan, maka lebih baik menahan bicara. Umar bin Khathab ra. pernah berkata, “Dari begitu banyak sahabat, aku tak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah.”

Imam An-Nawawi berpendapat, “Manusia sebaiknya tidak mengeluarkan ucapan kecuali sesuai kebutuhan, sebagaimana pula ia tidak perlu menafkahkan sebagian dari hasil usahanya, kecuali sesuai dengan kebutuhan.”

Berbicara tidak perlu berlebihan, karena sesuatu yang berlebihan pasti tidak akan baik. Bicara hanya ketika kita merasa perlu dan penting untuk menyampaikannya. Jangan sampai kita bicara hanya karena takut tidak didengar. Hal ini membuat kita tidak pantas untuk didengar. Kita bicara karena ingin menyampaikan manfaat.

Seorang muslim harusnya memang hanya melakukan hal-hal yang bermanfaat, dan meninggalkan hal yang sia-sia. Kegiatan membuang-buang waktu, seperti berbicara dari malam sampai pagi, mengobrol berjam-jam hal yang remeh, pembicaraan yang tidak bermanfaat, baik bagi dirinya maupun sesama. Kegiatan tiada bermanfaat bagi dirinya di masa depan. Tinggalkan hal-hal yang tidak bermakna, raihlah sesuatu yang bermanfaat.

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Di antara (tanda) baiknya keislaman seseorang adalah (sikapnya) meninggalkan sesuatu yang tidak bermakna baginya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar ra. berkata, “Sa’ad bin Ubadah ra. sakit lalu Rasulullah saw. menjenguknya bersama Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Mas’ud. Setelah masuk, beliau mendapatinya sedang pingsan. Beliau lalu bertanya, “Apakah dia sudah meninggal?’ Para sahabat berkata, ‘Belum, wahai Rasulullah.’ Lalu beliau menangis. Ketika para sahabat melihat Rasulullah saw. menangis, mereka pun ikut menangis, kemudian beliau bersabda, ‘Tidakkah kalian menangis? Sungguh Allah tidak mengazab karena air mata, tidak pula karena kesedihan hati, tetapi Dia mengazab karena ini – beliau menunjuk lisannya – atau Dia memberikan rahmat-Nya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah akan menjaga kita, dan memberikan rahmat kepada kita, ketika kita mampu menjaga lisan. Allah tidak melihat bentuk wajah, tubuh kita, tetapi Allah melihat hati dan niat kita melakukan kebaikan. Allah lebih mengutamakan apa yang ingin kita berikan kepada sesama. Allah akan meninggikan derajat kita. Semoga Allah memberikan rahmatnya bagi lisan kita dan menghindarkan keburukan darinya. Aaamiin.

Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh dan bentuk rupa kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” HR. Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad

 Oleh: Aldi Rahman Untoro - Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya