Ditulis pada tanggal 30 Mei 2017, oleh admin, pada kategori Berita, Buletin Universitas Brawijaya

MARHABAN YA RAMADHAN

Khalid Rahman, M.Pd.I*

Puasa Sebagai Ibadah Jasmani

Berpuasa pada bulan Ramadhan merupakan salah satu rukun dari beberapa rukun agama Islam. Kewajiban melaksanakannya telah tertulis dalam Al-Qur’an dan hadis, maka orang yang mengingkarinya berarti telah keluar dari Islam, karena puasa seperti shalat yaitu ditetapkan dengan keharusan. Puasa Ramadhan adalah fardhu ‘ain bagi setiap mukallaf. Mukallaf adalah setiap orang muslim yang sudah baligh dan berakal. Seorang mukallaf terhalang puasanya karena mempunyai sebab-sebab seperti berikut: 1) haid, 2) nifas, 3) sakit, 4) wanita hamil yang hampir melahirkan, 5) wanita yang sedang menyusui, 6) perjalanan yang sesuai dengan syarat-syarat yang diperbolehkan qashar, 7) orang tua renta baik laki-laki maupun perempuan yang tidak kuat lagi berpuasa.

Hal-hal yang membatalkan puasa, yaitu: 1) makan dan minum dengan sengaja, 2) bersetubuh dengan sengaja, 3) Istimma’ yaitu mengeluarkan mani, 4) muntah dengan sengaja, 5) berbekam (bercaduk), 6) disuntik dengan yang cair, 7) debu halus yang tebal yang masuk pada lubang tubuh, termasuk asap rokok, 8) bercelak, 9) membatalkan niat puasa, 10) menyelam, 11) orang yang sengaja melamakan junub pada bulan Ramadhan sampai terbitnya fajar, 12) orang yang berbohong kepada Allah dan Rasul-Nya.

Berpuasa secara syariah yaitu dilakukan mulai sebelum terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari dengan menahan lapar, minum dan jima’. Sebagaimana juga telah dijelaskan di atas syarat puasa bagi mukallaf dan apa saja yang tidak boleh dilakukan karena bisa menggugurkan puasa. Lebih jauh puasa Ramadhan dipahami sebagai ibadah fardhu ‘ain yang merupakan ibadah ritual, puasa juga sebagai ibadah ruhani untuk selalu harmonis dan dekat dengan Allah SWT, karena hanya kita dan Allah SWT yang tahu akan ibadah puasa kita, kita berbohong atau makan dengan sembunyi-sembunyi hanya Allah SWT dan diri kita sendiri yang tahu.

Hakikat Puasa

Inti dari ibadah puasa adalah menahan (imsak), menahan berbagai hal dari prasangka, perbuatan dan perkataan agar terhindar maksiat. Bila diurai hakikat puasa adalah menahan berbagai hal sebagai berikut:

1)  Tidak Melihat Apa yang Dibenci Allah SWT.
Suatu hal yang suci, menahan diri dari melihat sesuatu yang dicela (makruh), apalagi yang haram atau yang dapat melalaikan hati kita dari mengingat Allah SWT. Nabi Muhammad SAW. bersabda, “Pandangan adalah salah satu dari panah-panah beracun milik setan, yang telah dikutuk Allah. Barangsiapa menjaga pandangannya, semata mata karena takut kepada Nya, niscaya Allah SWT. akan memberinya keimanan, sebagaimana rasa manis yang diperolehnya dari dalam hati.” (H.R. al Hakim, hadis shahih). Jabir meriwayatkan dari Anas, bahwa Rasulullah SAW. telah bersabda, “Ada lima hal yang dapat membatalkan puasa seseorang: berdusta, mengurnpat, menyebar isu (fitnah), bersumpah palsu dan memandang dengan penuh nafsu.”

2)     Menjaga Lisan / Ucapan
Menjaga lisan dari perkataan sia-sia, berdusta, mengumpat, menyebarkan fitnah, berkata keji dan kasar, melontarkan kata-kata permusuhan; dengan lebih banyak berdiam diri, memperbanyak dzikir dan membaca / mengkaji Al-Qur’an. Rasulullah SAW. bersabda, “Puasa adalah perisai. Maka barangsiapa di antaramu sedang berpuasa janganlah berkata keji dan jahil, jika ada orang yang menyerang atau memakimu, katakanlah, Aku sedang berpuasa! Aku sedang berpuasa!” (H.R. Bukhari Muslim).

3)     Menjaga Pendengaran
Menjaga pendengaran dari segala sesuatu yang tercela; karena setiap sesuatu yang dilarang untuk diucapkan juga dilarang untuk didengarkan. Dalam Al Qur’an Allah SWT. berfirman, “Mengapa para rabbi dan pendeta di kalangan mereka tidak melarang mereka dari berucap dosa dan memakan barang terlarang?” (Q.S. 5: 63).
Oleh karena itu, sebaiknya berdiam diri dan menjauhi pengumpat. Allah SWT berfirman dalam wahyu-Nya, “Jika engkau (tetap duduk bersama mereka), sungguh, engkaupun seperti mereka …” (Q.S. 4: 140). Itulah mengapa Rasulullah SAW. mengatakan, “Yang mengumpat dan pendengarnya, berserikat dalam dosa.” (H.R. at Tirmidzi).

4)     Menjaga Sikap Perilaku
Menjaga semua anggota badan dari dosa : kaki dan tangan dijauhkan dari perbuatan yang makruh, dan menjaga perut dari makanan yang diragukan kehalalannya (syubhat) ketika berbuka puasa. Makanan yang halal juga akan menimbulkan kemudharatan, bukan karena mutunya tetapi karena jumlahnya. Rasulullah SAW. bersabda, “Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan sesuatu, kecuali lapar dan dahaga saja!” (H.R. an Nasa’i, Ibnu Majah). Ini artinya banyak orang berpuasa tetapi tidak menjaga anggota tubuhnya dari berbuat dosa. Seorang tersebut ibarat mengisikan pasir pada kantong yang bocor.

5)     Menghindari Makan Berlebihan
Berbuka puasa dengan makan yang tidak berlebihan, apalagi sampai rongga dadanya menjadi sesak. Terlebih lagi, biasanya di bulan puasa masih disediakan makanan tambahan, yang justru di hari-hari biasa tidak tersedia. Hal ini akan memupuk nafsu kita dan jasmani kita lebih sulit dikendalikan. Karena hakikat puasa adalah melemahkan tenaga yang biasa dipergunakan setan untuk mengajak kita ke arah kemaksiatan. Oleh sebab itu, lebih esensial bila kita mampu mengurangi porsi makan malam dalam bulan Ramadhan dibanding malam-malam di luar bulan Ramadhan, saat tidak berpuasa. Hal konsumtif lainnya, harusnya juga mampu kita kendalikan, agar tidak berbalik orientasi, di bulan ramadhan kita cenderung semakin konsumtif, bukan hanya pada makanan, bahkan belanja kita lebih banyak, seperti pakaian, asesoris komunikasi, alat transportasi semuanya kita inginkan yang baru, bukan jiwa kita yang baru menuju penyucian melalui puasa. Pengeluaran kita jauh lebih banyak dibanding selain bulan ramadhan, maka boleh kita berbelanja yang banyak hanya belanja untuk Allah SWT yaitu sedekah, infaq dan zakat yang seharusnya perlu kita tingkatkan.

6)  Menuju kepada Allah SWT dengan Rasa Takut dan Pengharapan
Setelah berbuka puasa, selayaknya hati terayun ayun antara takut (khauf) dan harap (raja’). Karena siapa pun tidak mengetahui, apakah puasa kita diterima sehingga diri kita termasuk orang yang mendapat karunia-Nya sekaligus orang yang dekat dengan-Nya. Ataukah puasa kita tidak diterima, sehingga diri kita menjadi hamba yang dicela oleh-Nya. Pemikiran seperti inilah yang seharusnya ada pada setiap orang yang telah selesai melaksanakan puasa setiap harinya di bulan ramadhan.

Dengan kita memahami hakikat puasa mudah-mudahan menambah pemaknaan dalam menjalani ibadah puasa yang akan kita lakukan tentunya untuk mencapai dejarat takwa kepada Allah SWT. Sehingga kita termasuk hamba-hamba yang mampu menyambut puasa ramadhan tahun 1438 H/2017 M dengan bahagia dan penuh kekhusyuan.

 *Dosen PAI Universitas Brawijaya.