Ditulis pada tanggal 27 September 2018, oleh admin, pada kategori Berita, Bloger Dosen

Kita orang-orang beragama beriman maka, hidup dan seluruh aktiviti kita terhitung sebagai perbuatan ibadah. Artinya ketika berniat karena Allah dengan membaca Basmalah (Bismillahirrahmanirrahim) kita memulai satu perbuatan dengan mengharapkan ridha Allah, disitulah ibadah kita. Sebagai perbuatan ibadah tentunya Allah swt membalas lebih dari apa yang kita berikan. Maka, mengeluh, apalgi merasa lelah dalam ibadah tersebut merupakan perbautan yang sia-sia. Sebab, dari sinilah kita merasa tidak nyaman, alias tidak bahagia dengan apa yang kita kerjakan. Bahkan ketidak nyamanan ini memicu konflik batin yang gilirannya melahirkan pikiran destruktif yang juga ditenggarai sebagai salah satu pemicu penyakit.

Bekerja sebagai ibadah adalah sumber kebahagiaan dan pada akhirnya memberikan kesehatan jasmani dan rohani kita. Disinilah dahsyatnya pengaruh iklas mencari ridha Allah sebagai sumber kekuatan dan kesehatan kita. Perhatikanlah firman Allah: “Adapun orang-orang beriman dan mengerjakan kebajikan, Allah akan menyempurnakan pahala bagi mereka dan menambah sebagaian dari karuniaNya. Adapun orang-orang yang enggan (menyembah Allah) dan menyombongkan diri, maka Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih, dan mereka tidak akan mendapatkan perlindungan dan penolong selain Allah” (QS. Al-Nisa:173) Baca dan perhatikan baik-baik firman Allah tersebut lalu hayati dan amalkan dalam kehidupan kita. Ayat tersebut ini sesungguhnya Allah swt sedang  berbicara dengan kita, memberikan fatwa dan petunjukNya untuk kita agar memperoleh berkah dan terhindar dari azab.

Betapa indah dan bahagianya kita, jika hidup ini menanam kebaikan dan taqwa sebagai bukti syukur kepadaNya. Demikian pula betapa sengsaranya hidup ini menanam keburukan dan kekufuran, maka azab itulah jawabannya.

Jangan pernah mengatakan lelah apalagi terpaksa dam semua perbuatan ataupun pekerjaan ibadah. Katakan cibta padaNya atas perbuatan ibadah yang membuat kita menjadi kaya sejatinya. Sungguh berbahagialah kita menjadi hamba-hambahNya yang selalu menyatakan Cinta, Ikhlas, dan Ridha padaNya. Karena akhir dari sesuatu, kehidupan ini hanya pertanggungan jawab untuk memperoleh rahmat atau azab (reward and punishment), dan saat itu sudah tidak ada lagi pembelaan dan pertolongan kecuali hanya dari Allah semata. Untuk itulah hidup ini merupakan kesempatan sekaligus peluang untuk meraih kuwaliti diri, sebagai pribadi terbaik dan berbuat baik pada sesama. Tanpa itu niscaya kita akan menjadi orang-orang menyesal dan merugi dikemudian hari.

Sebenarnya yang membuat kita mengatakan lelah dalam pekerjaan ibadah itu bersumber dari hati yang hampa iman. Sehingga pikiran dan perasaan terbawa dalam ucapan yang sia-sia, seperti ucapan lelah , terpaksa ataupun perbuatan ogah dan pamer (riya’). Sejatinya ini semua merupkan sumber bencana atau malapetaka dalam hidup ini yang seringkali dianggap sebagai persoalan sepele / kecil oleh kita. Perhatikan berapa banyak orang-orang diantara yang terkena “musibah” gara-gara hal-hal tersebut. Dan seharusnya menjadi pelajaran untuk kita agar tidak mengulangi hal yang sama seperti mereka.

Orang karenanya menjadikan perbuatan ibadah sebagai sumber kebahagiaan adalah satu keniscayaan untuk kita. Dan dengan itu, kita akan menjadi orang yang paling berbahagia dalam urusan dunia kita, apalagi untuk urusan dihari akhirat nanti, Semoga!. Oleh: Prof. Dr. Thohir Luth, MA – Guru Besar Ilmu Hukum Islam Fak. Hukum UB