Ditulis pada tanggal 21 Pebruari 2018, oleh admin, pada kategori Berita, Buletin Universitas Brawijaya

Perdebabatan tiada henti, tentang bagaimana dunia ini ada, apakah ia diciptakan atau dunia ini ada dengan sendirinya. Pada kesempatan ini bagaimana kosmos ini ada akan dibahas dari sudut pandang tokoh Islam, tentunya dalam pembahasan ini “mungkin” akan bertolak belakang dengan keyakinan yang beranggapan bahwa dunia ini ada dengan sendirinya, atau dunia ini tidak diciptakan oleh tuhan.

Pada tulisan kali ini penulis akan membahas kosmologi perspektif Syed muhammad Naquib Al-Attas. Di dunia intelektualitas muslim posisi Al-Attas sudah tidak diragukan lagi. Sumbangsih pemikirannya sudah banyak mewarnai perkembangan corak pemikiran ummat muslim dewasa ini. Sekaligus menempatkan smn.Al-Attas sebagai tokoh intelektual muslim kontemporer.

Permasalahan yang akan dibahas pada kesempatan ini adalah akan difokuskan terhadap bagaimana jagat raya ini ada. Dengan begitu pembahasan ini tidak akan mengalami kesimpang siuran. Berhubung Al-Attas seorang pemikir jebolan muslim, maka besar kemungkinan seluruh pandangan Al-Attas akan berpijak pada wahyu (kalam ilahi) dan sunnah rasulnya. Sebab tidak mungkin seorang tokoh akan melakukan kontra terhadap apa yang dia yakini, kecuali ia “keluar” dari keyakinan yang dia yakini. Jadi tidak ada ilmu yang bebas nilai. Berpijak pada wahyu dan sunnah rasul merupakan titik awal bagi pemikir muslim untuk melihat apa yang akan dikaji. Sebagaimana diungkapkan oleh syafii ma’arif, al-quran dan sunnah rasul adalah sebagai ukuran benar salahnya suatu pemikiran.

Islamic Worldview langkah awal melihat kosmologi

Mengapa pandangan hidup yang di dahulukan?, sebab pandangan hidup mempunyai peranan penting untuk melihat segala problem yang terjadi di era dewasa ini. Islam sebagai agama (din) sekaligus pandangan hidup (worldview) tidak saja relevan tapi juga urgen. Sebab selama ini banyak yang mencoba memahami Islam dalam hubunganya dengan Barat atau dengan peradaban modern, hanya sebatas Islam sebagai agama, dan bukan Islam sebagai agama dan sekaligus pandangan hidup. Walhal Islam adalah agama (din) dengan seperangkat ritus peribadatan dengan hukum-hukumnya dan konsep-konsep vital tentang Tuhan, kehidupan manusia, alam semesta dan konsep-konsep lainnya yang kokoh sehingga berkembang menjadi peradaban (madaniyyah). Bangunan konsep Islam sebagai agama dan peradaban ini mencerminkan sebuah pandangan hidup (worldview) yang memiliki struktur konseptualnya sendiri yang ekslusif dan berbeda dari peradaban lain.

Menurut Ninian Smart worldview adalah kepercayaan, perasaan dan apa-apa yang terdapat dalam pikiran orang yang befungsi sebagai motor bagi keberlangsungan dan perubahan sosial dan moral” Hampir serupa dengan Smart,  Thomas F Wall mengemukakan bahwa worldview adalah sistim kepercayaan asas yang integral tentang hakekat diri kita, realitas, dan tentang makna eksistensi .

Lebih luas dari kedua definisi diatas Prof. Alparslan mengartikan worldview sebagai asas bagi setiap perilaku manusia, termasuk aktifitas-aktifitas ilmiyah dan teknologi. Setiap aktifitas manusia akhirnya dapat dilacak pada pandangan hidupnya, dan dalam pengertian itu maka aktifitas manusia dapat direduksi menjadi pandangan hidup.

Ada tiga poin penting dari definisi diatas, yaitu bahwa worldview adalah motor bagi perubahan sosial, asas bagi pemahaman realitas dan asas bagi aktifitas ilmiah. Dalam konteks sains, hakekat worldview dapat dikaitkan dengan konsep “perubahan paradigma” (Paradigm Shift) Thomas S Kuhn yang oleh Edwin Hung juga dianggap sebagai weltanschauung Revolution. Sebab paradigma menyediakan konsep nilai, standar-standar dan metodologi-metodologi, atau ringkasnya merupakan worldview dan framework konseptual yang diperlukan untuk kajian sains. Namun dari definisi diatas setidaknya kita dapat memahami bahwa worldview adalah identitas untuk membedakan antara suatu peradaban dengan yang lain. Bahkan dari dua definisi terakhir menunjukkan bahwa worldview melibatkan aktifitas epistemologis manusia, sebab ia merupakan faktor penting dalam aktifitis penalaran manusia.

Ketiga definisi diatas berlaku bagi peradaban atau agama secara umum. Namun definisi untuk Islam mempunyai nilai tambah karena sumbernya dan spektrumnya yang luas dan menyeluruh. Bagi Naquib Al-Attas worldview Islam adalah pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati dan yang menjelaskan hakekat wujud; oleh karena apa yang dipancarkan Islam adalah wujud yang total maka worldview Islam berarti pandangan Islam tentang wujud (ru’yaat al-Islam lil-wujud). Naquib Al-Attas lebih cenderung kepada makna metafisis dan epistemologis.

Cosmos Hasil dari Creasi Tuhan

Sebagaimana diawal pembahasan diatas dikemukakan bahwa setiap agama meyakini dunia diciptakan oleh sang pencipta, apapun agamanya, selama agama itu masih mengakui adanya Tuhan. Dunia ini merupakan hasil dari creasi tuhan lebih tepatnya dunia ini adalah ciptaan Tuhan. Sebagaimana Al-Attas mengungkapkan berdasarkan wahyu, bahwasanya dunia ini tercipta selama enam hari. Dalam hal ini hari yang dimaksudkan bukanlah hari-hari biasa manusia, melainkan bagi Al-Attas hari penciptaan itu jika disamakan dengan hari manusia adalah satu hari bagaikan seribu tahun atau lima puluh ribu tahun. Penafsiran Al-Attas ini berdasarkan wahyu juga sebab disebutkan dalam wahyu seperti itu.

Dalam al-quran disebutkan bahwa dunia ini diciptakan selama enam hari pada surat yunus (10:3) dan surat  al-a’raf (7:54), dan selalu disebutkan bahwa tuhan adalah single act dalam penciptaan dunia ini. Selanjutnya Al-Attas berkeyakinan bahwa tuhan adalah satu-satunya yang absolute mengkontrol dunia ini sebagaimana ia sebutkan dalam surat yunus (10:4), surat al-naml (27:64), al-‘angkabut (29:19-20), ibrahim (14:48), qaf (50:15).

Bagi Al-Attas bahwasanya penciptaan selama enam hari itu dibagi kedalam dua bagian yaitu empat hari pertama dan dua hari terakhir, penafsiran Al-Attas lagi-lagi berdasarkan apa yang disebutkan dalam al-quran sebagaimana Al-Attas sebutkan, “the six day may be divided into distinct phases of four day and two day (fussilat (40):10, and 9:12). In these passages we are further informend that He brought into being (ja’ala) rawasiya- which commentators usually interpret to mean ‘mountains’- setting them high above the Earth. The basic meaning of the word rawasiya, which is a plural from the root rasa, conveys the notion of entities that are fixed, steadfast, firmly established in a permanent sort of way that cannot be moved or transferred to another place. The interpretation of it as ‘mountains’ is therefore sound; for mountains are characterized by sort of fixity that is described by rawasiya, and they rise high above ground level. He also blessed the Earth, and measured in due proportion (qaddara) all things therein, giving them their sustenance (aqwataha) in accordance with the requirement of those who ask (sawa’an li al-sa’ilin). This phase of creation is accomplished in four days”

Adapun dua hari terakhir dari bagian kedua adalah merupakan penciptaan untuk menyempurnakan ciptaan-Nya dari empat hari pertama dari penciptaan dunia ini. Lagi-lagi Al-Attas berargumentasi menurut pemahamannya akan apa yang diberitahukan pencipta memalui wahyu yaitu al-quran.

Melihat pemaparan Al-Attas atas penciptaan dunia ini, merupakan bukan hasil pemikirannya tapi merupakan penjabaran apa yang sudah tertulis dalam wahyu orang muslim. Jadi Al-Attas pada tatanan ini meyakini bahwa dunia merupakan hasil dari creasi tuhan bukan evolusi. Pandangan Al-Attas murni berdasarkan wahyu kitab suci yang ia yakini yaitu kitab suci al-quran. Dengan demikian dalam dunia pemikir muslim bahwasanya peranan wahyu dan sunnah nabi mempunyai andil yang sangat besar.

Namun jika melihat pemikiran ilmuan yang tidak mengakui adanya tuhan dari sudut pandang ilmuan beragama maka akan berbeda bahkan salah. Inilah pentingnya sudut pandang dalam melihat permasalahan yang diperdebatkan. Sabagaimana penulis paparkan pada penjelasan didepan bahwasanya persoalan pokok yang dihadapi para ilmuan terletak pada sudut pandang (worldview). (Albar Adetary Hasibuan, M.Phil Dosen Pancasila Universitas Brawijaya).