Ditulis pada tanggal 11 September 2016, oleh admin, pada kategori Berita, Khutbah

Menapak Jejak Ibrahim A.S., Menebar (Gerakan) Keteladanan[1]

Oleh: Prof. Drs. Gugus Irianto, MSA. PhD. Ak.[2]

 

بِسمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

KHUTBAH PERTAMA

اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ

اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ

اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ

لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، وللهِ الحَمْدُ…

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْراً ، وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيْراً ، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً …

لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ، اللهُ أَكْبَرُ ، الله أكبر ، ولله الحمد …

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلى نَبيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

فَيَاعِبَادَ اللهِ :اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jamaah Sholat Idul Adha yang dirahmati Allah,

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadhirat Allah SWT, yang telah melimpahkan karunia yang paling agung kepada kita, berupa Iman dan Islam, serta nikmat berupa kesempatan untuk dapat menunaikan Sholat Idul Adha di pagi yang indah ini.  Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah untuk junjungan kita, Rasulullah Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang setia hingga akhir jaman.

Hari ini, 10 Dzuhijjah 1437 Hijriyah, kita kembali merayakan salah satu dari dua hari raya kita, Idul Adha atau juga dikenal dengan Hari Raya Qurban.  Gemuruh takbir dan tahmid membahana di seluruh penjuru dunia dalam rangka menyambut hari raya ini sampai di hari-hari tasyrik.  Sebagian dari Saudara-saudara kita, pada hari ini mendapat keistimewaan dari Allah SWT untuk bisa hadir memenuhi panggilanNya menunaikan ibadah haji, dan pada 9 Dzulhijjah kemarin, jutaan saudara-saudara kita tersebut berkumpul, melaksanakan wukuf di padang Arafah, sembari mengumandangkan takbir dan tahmid, memuji kebesaran dan kemuliaan Allah SWT sekaligus mensyukuri nikmatNya.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd,
Jamaah Shalat Id yang dirahmati Allah,
 

Dari setiap peristiwa keagamaan, kita senantiasa dapat mengambil hikmah, mengambil pelajaran, dengan jalan merenungkan kembali rangkaian peristiwa keagamaan tersebut dan kemudian mengambil point-point penting untuk kita jadikan inspirasi bagi kehidupan kita, bagi umat Islam, dan juga bagi bangsa ini.  Demikian pula, untuk peristiwa besar yang kita jejaki pada hari ini.  Karena itu, pada pagi yang cerah ini, kita akan membuka kembali lembaran-lembaran sejarah yang ditorehkan oleh figur sentral peristiwa yang kita rayakan sebagai hari raya Qurban yaitu Ibrahim AS, dengan tanpa meniscayakan peran figur-figur lainnya, utamanya putra Beliau, Ismail AS dan istri Beliau Siti Hajar.

 

Tidak kurang dari 60 ayat[3] Al Qur’an mengisahkan tentang Ibrahim AS dalam berbagai peristiwa, dari kisah “pencarian” Tuhan (QS 6: 76-78), dialog Ibrahim AS dengan penguasa yang lalim – Raja Namrud (QS 2: 258), percakapan Ibrahim dengan ayahandanya (QS 6: 74), dialog Ibrahim dengan malaikat yang diutus ke kaum Luth (QS 11: 69-74), dialog Ibrahim dengan putranya Ismail (QS 37: 102) , dan beberapa kisah lainnya.   Dari beragam kisah tersebut, setidaknya terdapat 3 (tiga) pelajaran utama yang diwariskan Nabi Ibrahim AS kepada kita.

 

Pertama, Ibrahim AS merupakan pribadi yang tangguh untuk berTauhid, tidak pernah mengenal lelah dalam pencarian kebenaran sejati sekaligus mencerahkan masyarakatnya untuk ber-Tauhid. Kedua, Ibrahim AS merupakan figur yang berakhlaq mulia atau berbudi pekerti luhur, santun dalam bertutur dan berdialog, namun tegas dalam sikapnya.  Ketiga, Ibrahim AS merupakan sosok yang tawadu, tunduk, patuh, taat, tulus dan ikhlas, dalam menunaikan perintah Allah SWT.  Pelajaran terakhir ini dapat kita ambil dari peristiwa yang kita peringati di hari ini, yang mungkin merupakan salah satu ujian berat sepanjang masa hidupnya yaitu untuk melaksanakan Qurban anak tercintanya, Ismail AS.   Dari tiga pelajaran tersebut, kita akan mencoba menarik relevansinya dalam konteks keumatan dan kemasyarakatan kita, di negeri yang kita cintai ini.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd,

Pelajaran pertama, sebagai pelajaran utama dari peristiwa yang kita rayakan pada hari ini adalah adalah tentang ketaatan, kepatuhan, ketundukan, ketulusan, keikhlasan, dan kesabaran Nabi Ibrahim AS (dan keluarganya, terutama Nabi Ismail AS, dan Ibunda Ismail, Siti Hajar) dalam menunaikan perintah Allah SWT.  Kisah dimaksud digambarkan dalam Al Qur’an Surat As Shaffat (37) ayat 102:

 

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٠٢

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. As-Shaffat [37]: 102)

Secara rasional, mungkin akan sangat sulit bagi kita untuk membayangkan bagaimana Ibrahim AS menghadapi ujian Allah SWT tersebut.  Dalam waktu yang lama tidak dikaruniai anak, lalu ketika sudah dikaruniai seorang anak Ismail AS yang mulai tumbuh dewasa, lantas diuji Allah SWT untuk dikorbankan.  Walaupun demikian, Ibrahim AS tunduk dan patuh kepada Allah SWT untuk menunaikan perintahNya[4].   Ketaatan, kesabaran, dan kepasrahan yang dimiliki Ibrahim AS, dan keluarganya berbuah manis, karena pada akhirnya mendapat limpahan karunia Allah SWT berupa penghentian prosesi “penyembelihan” Ismail AS dan diganti dengan seekor sembelihan (domba) yang besar, sebagaimana firmanNya:

 

 وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ١٠٧

 

Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (QS. As-Shaffat [37]: 107)

 

Peristiwa besar ini kemudian menjadi titik tolak perintah Allah SWT kepada kita untuk melaksanakan Qurban, sebagaimana dituangkan dalam Al Quran pada ayat ke dua surat Al Kautsar:

 فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ ٢

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah (QS. Al Kautsar [110]: 2)

 

Penyembelihan hewan qurban pada hari raya ini selain merupakan bentuk ketundukan, kepatuhan kepada perintah Allah SWT, juga merupakan salah satu bentuk perwujudan syukur kita kepada Allah SWT (QS 110: 1).   Puncak tujuannya adalah dalam rangka menggapai keridhlaanNya.

 

Kisah keteguhan iman, kepatuhan dan kesabaran Ibrahim AS dan keluarganya dalam menunaikan perintah Allah SWT dapat menjadi suri tauladan bagi kita semua.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd,
Jamaah Shalat Id yang berbahagia,
 

 

Ibrahim AS: pribadi tangguh, ber-Tauhid

 

Dua pelajaran utama lain dari berbagai kisah Ibrahim AS yang dinukilkan dalam Al Qur’an, adalah (1) Ibrahim AS merupakan sosok yang tangguh, dan tidak pernah mengenal lelah dalam pencarian kebenaran untuk ber-Tauhid dan sekaligus mencerahkan masyarakatnya untuk ber Tauhid dan (2) Ibrahim AS merupakan sosok yang santun dan berakhlaq mulia.

 

Dalam surat Al Anam (6) 76-78 digambarkan bagaimana Ibrahim AS “mendidik” masyarakatnya untuk hanya menyembah Allah SWT, dan tidak menuhankan bintang, rembulan, atau matahari.  Ikhtiar Ibrahim AS yang dilakukan dengan bijaksana melalui episode kisah “pencarian” Tuhan.

 

Ibrahim AS menolak “Tuhan” yang bisa tenggelam, atau terbenam.   Ketika melihat bintang Ibrahim AS berkata “inilah Tuhanku”, namun ketika bintang tersebut tenggelam, maka serta merta Ibrahim AS mengatakan “saya tidak suka kepada yang tenggelam” (QS 6:76).  Sikap yang sama ditunjukkan Ibrahim ketika melihat rembulan, dan demikian pula ketika melihat matahari.

Pada surat Al Anam ayat 77, setelah menegasikan rembulan sebagai Tuhan, karena rembulan bisa terbenam, Ibrahim menyatakan “ … sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat” yang mengisyaratkan bahwa sesungguhnya Ibrahim AS memiliki kesadaran ketuhanan (God Consciousness) yang tertanam kokoh dalam lubuk hati dan jiwanya.  Kesadaran dan keyakinan yang bersumber dari bimbingan dan petunjuk Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.

Pada ayat selanjutnya, QS 6:78, setelah menolak matahari sebagai Tuhan, Ibrahim   menyatakan “…Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan”.  Kisah ini mensiratkan bahwa dalam proses “pencarian” Tuhan, Ibrahim AS sesungguhnya sedang mendidik kaumnya untuk tidak menuhankan bintang, rembulan, dan matahari[5].  Ibrahim AS sedang “mendidik” kaumnya untuk menegakkan kalimat tauhid “La illaha illallah” bahwa tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah.  Ibrahim mendidik kaumnya untuk menyembah Tuhan YME pencipta bintang, rembulan, dan matahari.  Sebuah proses yang tidak mudah, yang hanya bisa ditunaikan oleh pribadi yang tangguh.  Pribadi yang senantiasa meneguhkan diri untuk tidak mempersekutukan Tuhan sebagaimana dinarasikan dalam Al An’am ayat 79:

إِنِّي وَجَّهۡتُ وَجۡهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ حَنِيفٗاۖ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٧٩

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan (QS Al An’am [6]: 79).

Spirit yang tidak mengenal lelah dalam pencarian kebenaran hakiki serta dalam mencerahkan masyarakat yang dicontohkan Ibrahim AS, dapat menjadi suri tauladan bagi kita semua, civitas akademika, dan pemangku kepentingan (stakeholders) Universitas Brawijaya.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd,
Jamaah Shalat Id yang dirahmati Allah,
 

 

Ibrahim AS: santun, tegas dan ber akhlaq mulia.

 

Disamping merupakan sosok pribadi yang tangguh, Ibrahim AS juga seorang yang santun dan tegas, serta berakhlaq mulia/berbudi pekerti luhur.  Dialog yang dilakukan Ibrahim AS dengan ayahandanya dan dengan kaumnya, serta do’a Ibrahim untuk ayahandanya dapat menjadi gambaran bagaimana pribadi Ibrahim AS.

Salah satu dialog Ibrahim AS dengan ayahandanya dapat kita temukan dalam Surat Al Anam 74 sbb.:

“… Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?, Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata” (QS Al An’am [6]: 74)

Kalimat awal dari ayat tersebut secara relatif menunjukkan “kesantunan dan kearifan” Ibrahim AS dalam berkomunikasi dengan ayahandanya. Ibrahim dengan cerdas menyampaikan pertanyaan dan tidak serta merta memvonis, lalu diikuti dengan sikap tegasnya dalam menolak penyembahan Tuhan-tuhan selain Allah SWT, sebagaimana digambarkan dalam lanjutan ayat tersebut.

Kesantunan Ibrahim AS dilandasi akhlaq mulia atau budi pekerti luhur.  Akhlaq mulia ini diantaranya tergambar dalam Surat At Taubah ayat 114 sebagai berikut:

وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ ١١٤

Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun  (QS At Taubah [9]: 114).

Walaupun Ibrahim AS mengetahui kekeliruan jalan yang ditempuh ayahandanya, namun sebagai seorang anak, Ibrahim AS tetap menunjukkan baktinya kepada orang tuanya melalui do’a yang dipanjatkannya kepada Allah SWT.  Ini salah satu wujud akhlaq mulia Ibrahim AS.

Gambaran akhlaq Ibrahim serta sifat-sifatnya dapat pula kita temukan dalam berbagai firman Allah SWT dalam Al Qur’an.  Ibrahim AS dinyatakan, misalnya, “sangat lembut hatinya lagi penyantun” (QS At Taubah [9]:114); “penyantun dan penghiba” (QS Hud [11]: 75); dan “hanif” (QS An Nahl [16]:120, 123).

 

KHUTBAH KEDUA

اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ

اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ،اللهُ أَكْبَرُ

الْحَمْد لله. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلى رَسُوْلِ الله. مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ.

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَقَدْ قَال اللهُ تَعَالى يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ.

 

Jamaah Shalat Id yang dirahmati Allah, 

Menebar (Gerakan) Keteladanan

 

Bangsa kita saat ini sedang terus melaksanakan pembangunan, meskipun hasilnya masih belum seperti yang diharapkan.  Persoalan kemiskinan, pengangguran, utang Negara yang relatif besar, dan berbagai persoalan lainnya masih membelit bangsa kita.  Berbagai hasil kajian menunjukkan bahwa bangsa kita masih harus berjuang lebih keras agar menjadi lebih baik atau setara dengan bangsa lain. Dari berbagai indikator penilaian, sebut saja Global Competitiveness Index dari World Economic Forum, Corruption Perception Index dari Tranparency International,  Human Development Index dari UNDP, Worldwide Governance Indicators dari World Bank, Social Progress Index, dan World Happiness Index, secara rata-rata di Negara-negara ASEAN, Indonesia masih berada dibawah Singapura, Malaysia, dan Thailand.[6]   Kita boleh tidak setuju dengan hasil kajian tersebut, namun hemat saya, hasil-hasil kajian tersebut dapat dijadikan pendorong bagi seluruh elemen bangsa untuk bekerja lebih keras, lebih cerdas, dan lebih ikhlas untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.

 

Negeri kita memang jauh lebih beruntung dibanding dengan beberapa Negara berpenduduk mayoritas Muslim yang dirundung peperangan, namun di negeri tercinta ini, kita temukan paradoks (fenomena-fenomena yang “berseberangan”).  Rumah-rumah ibadah dapat kita temukan dengan mudah di setiap ujung-ujung jalan, atau bahkan di gang-gang yang sempit.  Majelis-majelis taklim tumbuh subur, tak terkecuali siraman rohani melalui televisi, media sosial, dan media lainnya.  Namun, pada saat yang sama, beragam peristiwa tragis dan memprihatinkan yang bertentangan dengan ajaran agama juga terjadi, bahkan seolah tidak surut.  “Mentalitas jalan pintas” dan yang sejenisnya dapat kita temukan di segala lini kehidupan.  Artinya, masih ada jurang pemisah yang dalam antara nilai-nilai dasar ajaran agama yang kita peroleh dengan perilaku di tengah masyarakat.

 

Ada yang menyatakan bahwa hal tersebut merupakan indikasi terjadinya kemerosotan moral, ditengah kehidupan kita yang berorientasi dan memuja materi (atau bahkan menuhankan “materi”?).  Dalam bingkai yang lebih besar, fenomena tersebut dapat saja disebut sebagai indikasi terjadinya “defisit integritas”[7] kalau tidak boleh dinyatakan sebagai “krisis integritas”.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd,

Jika demikian, maka menjadi tugas kita untuk turut mengurainya, meski kita menyadari bahwa untuk maksud tersebut tidak semudah membalik tangan.  Dari perspektif salah satu disiplin yang saya pelajari, unsur “manusia” dan “sistem” merupakan aspek utama yang perlu terus menerus “dibangun”,  diperbaiki, dan dikembangkan mengikuti dinamika perubahan zaman.

 

Momentum Idul Adha ini dapat kita jadikan titik tolak untuk menyentuh sisi “manusia”nya.   Melalui keteladanan Ibrahim AS, kita gelorakan kembali, kita perbaharui lagi, semangat keteladanan dalam kehidupan kita, sekecil apapun yang bisa kita perbuat (eg. tidak membuang sampah sembarangan, tertib dan disiplin berlalu lintas, menjauhkan diri dari praktik koruptif, dll).  Jika spirit keteladanan ini telah tumbuh dalam diri puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan umat Islam, maka akan menjadi bola salju gerakan keteladanan nasional, yang pada gilirannya, akan mewarnai dan menjadi ikhtiar bersama dari seluruh elemen bangsa: organisasi publik atau swasta, para pejabat publik maupun swasta, organisasi keagamaan, organisasi sosial kemasyarakatan, partai politik, perguruan tinggi, organisasi kemahasiswaan – intra dan ekstra Universitas, media masa, dan juga pribadi-pribadi di seluruh lapisan masyarakat.

 

Pada konteks tersebut, Universitas Brawijaya dapat menjadi laboratorium (untuk membangun) gerakan keteladanan mengingat UB mengelola pendidikan dari tingkat PAUD, SD, SMP, SMA (dikelola BSS) sampai dengan jenjang Doktoral.  Misalnya, melalui integrasi materi pembelajaran yang menekankan budi pekerti luhur (akhlaqul karimah) pada seluruh jenjang pendidikan dan pada berbagai subjek yang paling memungkinkan diajarkan dan dicontohkan; dan tidak hanya diletakkan di pundak guru-guru dan dosen agama kita.  Bukankah salah satu misi kenabian Muhammad SAW adalah untuk “menyempurnakan akhaq mulia” sebagaimana dinyatakan dalam hadits ”sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR: Bukhari).  Tentu saja keteladanan tidak terbatas pada aspek budi pekerti luhur, namun juga melalui beragam prestasi unggul, sebagaimana telah ditorehkan oleh UB dan civitas academikanya.  UB, pada gilirannya, bukan saja akan menjadi inspirasi, namun juga akan menjadi lokomotif untuk menghasilkan pribadi-pribadi unggul berbudi pekerti luhur, sekaligus memiliki kompetensi akademik yang mumpuni.  Ibrahim-Ibrahim baru akan tumbuh dan berkembang dari anak didik kita, dari kampus tercinta ini, dan menjadi pencerah dan harapan baru bagi masa depan bangsa ini.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd,
Jamaah Shalat Idul Adha yang dirahmati Allah,
 

Akhirnya, marilah kita berdo’a, memohon kepada Allah  SWT agar diberi kekuatan, kemudahan, pertolongan dan kesempatan untuk dapat mengikuti suri tauladan Ibrahim AS, dan menebarkannya.  Semoga kita dihindarkan dan dijauhkan dari segala keburukan dan mara bahaya di dunia dan akhirat, diberi kebaikan yang paling sempurna, kehidupan yang barokah, sejahtera dan bahagia waktu yang barokah dan membahagiakan. Semoga Allah SWT menjadikan negeri ini, negeri yang aman damai dan sentosa, negeri yang adil, makmur, dan sejahtera.

 

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ

          رَبَّنَا هَب لَنَا مِن أَزوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعيُن وَٱجعَلنَا لِلمُتَّقِينَ إِمَامًا

اَللَّهُمَّ اِناَّ نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمِ لاَ يَنْفَعُ  وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَسْبَعُ وَمِنْ دُعَاءِ لاَيُسْمَعُ

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ . وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ . وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Mohon dimaafkan atas segala kekhilafan dan kekurangan

Billathitaufiq wal hidayah

Wassalamu’alaikum wr wb. (***)



[1] Teriring ungkapan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan, kekuatan dan pertolonganNya, sehingga naskah ini bisa saya selesaikan.  Ucapan terimakasih dan penghargaan yang tulus, saya haturkan kepada Prof. Thohir Luth, Ketua Pusat Pembinaan Agama (PPA) Universitas Brawijaya, yang telah memberikan amanah dan motivasi kepada saya untuk menunaikan sabda Nabi “sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR Bukhori). Kepada Ustadz M Rohma Roziqin (Wakil Ketua PPA UB) dan Ustadz Fadhloli, saya juga menghaturkan terimakasih atas kelapangan hatinya untuk mereview dan memberikan masukan yang konstruktif untuk perbaikan draft naskah ini.

[2] Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Direktur Utama Badan Usaha Akademik, dan Sekretaris Dewan Pakar, Masjid Raden Patah, Universitas Brawijaya, Malang

[3] Bila kita membuka Qur’an in Word, dan menulis kata kunci “Ibrahim” dalam mode pencarian, akan ditemukan sekitar 62 ayat berisi kata “Ibrahim”

[4] Karena ketaatan, kepatuhan, dan kesabarannya, kemudian Ibrahim AS dikenal sebagai “Khalilullah” (kekasih Allah).  Di dalam Al Qur’an, kita dapat menemukan sifat Ibrahim ini pada beberapa ayat, misalnya QS Al Baqarah [2]: 131, dan QS An Nahl [16]:120.

[5] Dialog Ibrahim AS dengan kaumnya, dalam ikhtiar untuk membimbing kaumnya untuk ber-Tauhid, juga dapat kita temukan misalnya dalam An Anbiya 52, 54, 56, 58, 63, dan 66.

 

[6] Detail informasi dari berbagai penilaian tersebut dapat diakses melalui website masing-masing. 

[7] Deskripsi yang lebih detail dapat dibaca pada Irianto (2015), Spirit Profetik, Akuntan, dan Pencegahan Fraud, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Akuntansi Sektor Publik pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya, 10 Desember 2015.