Ditulis pada tanggal 15 Juli 2015, oleh admin, pada kategori Berita, Pengumuman

IDUL FITRI DAN PEREALISASIAN TAQWA

Oleh: Prof. Dr. Unti Ludigdo, SE.,M.Si.,Ak  (Ketua Takmir Masjid Raden Patah UB)

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Allahu Akbar 3x  walillahil hamd.

Subhanallah, walhamdulillah, laa ilaha illa Allah wa Allahu akbar. Maha Suci Allah, segala puji sepatutnya hanya kita haturkan kepadaNya, karena Dialah Sang Penguasa alam semesta ini, dan Dia pulalah yang menjaga kehidupan manusia dan seluruh makhluk di dalamnya. Allah Yang Maha Kaya yang tiada henti melimpahkan rahmat dan nikmat kepada kita semua, umat di seluruh jagad raya ini. Pagi ini selayaknya kita bersyukur, hanya karena perkenan-Nya dapat hadir berjamaah untuk menjalankan sholat idul fitri dan sekaligus menyambut datangnya hari kemenangan bagi manusia beriman. Semoga kumandang takbir, tahlil dan tahmid kita sejak sore kemarin hingga pagi hari ini dapat terus selalu menguatkan keimanan dan ketaqwaan kita sebagai umat Islam. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada manusia yang paling layak diteladani, Habiibina Baginda Nabi Muhammad SAW, yang dengan ketulusan dan kebesaran jiwanya telah berjuang dan mampu menancapkan sendi-sendi keimanan dan tauhid di relung jiwa umatnya. Demikian halnya kemuliaan semoga selalu terlimpah kepada keluarga, sahabat serta pengikut-pengikut Rasulullah SAW.

Sejak tadi malam, Ramadhan yang dirindukan sebagai bulan yang penuh kemuliaan telah kita tinggalkan. Kewajiban puasa sebulan penuh telah dijalankan dengan upaya sungguh-sungguh untuk mencapai kesempurnaan ibadah. Berbagai amalan sunah ramadhan pun telah dilakukan dengan segala hikmah di dalamnya. Sampai kemudian semalam kita semua yang hadir di sini telah menunaikan kewajiban zakat fitrah. Dengan itu semoga pagi ini kita benar-benar telah menjadi muslim sejati yang lulus dari arena penempaan spiritual yang disupervisi langsung dari Allah Sang Maha Penyayang. Semoga sekaligus kita lulus dengan predikat mukmin yang mutaqin, sebagaimana semua muslimin dan mukminin mendambakannya.

Seorang muslim yang telah lulus dari penempaan spiritual akan mendatangi panggung kehidupannya dengan kekuatan jiwa taqwanya. Muslim seperti ini telah mendapati kemuliaan dalam hidupnya dan akan selalu dirindukan kehadirannya. Pada diri muslim ini melekat semua kebaikan sebagai manusia yang telah menyelesaikan urusan dengan Tuhannya. Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan bahwa Tuhan berfirman, “Puasa itu bagiKu, ia meninggalkan syahwatnya, makanan dan minumnya karena Aku. Puasa itu perisai. Orang yang berpuasa itu mempunyai dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka dan kesenangan ketika bertemu dengan Tuhannya. Sungguh bau busuknya mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari pada bau kasturi” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Madjah). Ini adalah pengakuan sekaligus penghargaan Allah atas eksistensi orang yang ikhlas berpuasa, sehingga keburukannya pun berubah menjadi kebaikan di sisiNya. Demikianlah antara lain gambaran kenikmatan yang dijanjikan Allah bagi diri seorang mukmin yang berusaha meraih derajat taqwa.

Ketaqwaan memang menjadi tujuan setiap insan dalam berpuasa, sebagaimana Allah SWT firmankan, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183). Taqwa dan ketaqwaan merupakan keadaan yang sangat fundamental bagi manusia dalam menjalankan kehidupan di dunia ini, sehingga kita harus berusaha memahami ketetapan Allah menjadikannya tujuan dalam berpuasa sebagaimana juga sebagai tujuan setiap manusia dalam beribadah. QS. Al Baqarah: 21 menyebutkan, “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa.”

Keadaan taqwa dan ketaqwaan akan mengarahkan diri manusia dan masyarakat pada situasi ideal, yaitu kemuliaan, kenyamanan dan keteraturan hidup yang disinari cahaya ilahi. Di tengah keadaan kehidupan kita yang semakin pragmatis dengan gaya hidup masyarakatnya yang disifati oleh materialisme dan hedonisme, diwarnai dunia politik yang serba ambigu, pola hubungan sosial yang semakin transaksional, serta pemeliharaan ideologi kebangsaan yang terasa semakin lemah maka menghadirkan semangat taqwa merupakan hal yang sangat mutlak untuk dilakukan. Yang tentunya dalam konteks ke-Indonesia-an, akan menjadi suatu semangat yang memiliki daya ubah besar bagi kelangsungan moralitas bangsa.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (al-A’raaf: 96)

Allahu Akbar 3x, walillahil hamd

Ali bin Abi Thalib ra. menggambarkan keadaan taqwa atau ketaqwaan ini dengan beberapa keadaan berikut, yaitu: “Takut kepada Allah yang Maha Mulia, mengamalkan apa yang termuat dalam at tanzil (Al-Qur’an), mempersiapkan diri untuk hari meninggalkan dunia, dan ridha (puas) dengan hidup seadanya (sedikit).” Gambaran singkat yang disampaikan beliau ini memberikan suatu pedoman, bagaimana kita merealisasikan taqwa dan ketaqwaan dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, takut kepada Allah Yang Maha Esa. Memperhatikan realitas saat ini, banyak ditemui suatu keadaan dalam mana manusia telah sangat mudah melupakan kehadiran Tuhan dalam keseluruhan waktu hidupnya. Tuhan ada hanya pada saat beribadah di dalam masjid atau saat menjalankan ibadah mahdhah, sementara dalam aktifitas kehidupan selainnya kebanyakan manusia senyatanya menganggap “Tuhan telah mati”. Anggapan ini kemudian mengarahkan pada pola tindakan tidak perlu ada yang ditakuti untuk melakukan berbagai tindak keburukan. Dengan gampangnya seseorang memperdayai yang lain demi pemenuhan kepuasan dirinya, serta dengan mudahnya ia menghabisi kehidupan yang lain dan merusak alam demi keuntungannya sendiri. Dari sinilah kemudian berbagai persoalan kehidupan ini terjadi secara masif. Untuk itu menghadirkan Tuhan dalam kehidupan kita merupakan keadaan yang sangat mendasar, karena akan mencegah kita melakukan berbagai kekejian dan kemunkaran, serta justru akan mendorong kita melakukan berbagai kebajikan. Dengan hadirnya Tuhan, kita akan tercegah melakukan kekejian kepada sesama manusia maupun kepada sesama makhluk Tuhan, dan sebaliknya terdorong untuk menumbuhkan kecintaan kepada mereka. Dengan hadirnya Tuhan, kita akan tercegah melakukan berbagai kemunkaran yang akan merusak tatanan kehidupan di dunia dan tatanan lingkungan alam, serta sebaliknya akan mengarahkan kita untuk menguatkan pemeliharaan atasnya. Dalam QS. Al Qashash; 7 disebutkan suatu firman, “dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Pada sisi yang lain, pemahaman terhadap takut hanya kepada Allah Yang Maha Kuasa akan mengarahkan seseorang selalu optimis dalam menghadapi tantangan kehidupan ini karena tidak terjebak pada berbagai ketakutan selain kepada Allah. Banyak hal negatif terpaksa dilakukan juga karena ketakutannya kepada kekuatan atau kekuasaan selain Allah. Di tempat kerja, seseorang melakukan suatu penyimpangan atau penyelewengan kerja dengan dalih diperintah oleh atasan. Apabila perintah itu tidak dituruti maka karir dan pendapatan yang bersangkutan tidak akan berkembang. Takut kepada Allah akan membentengi kita larut dalam ketakutan tersebut. Bukankah telah dijanjikan oleh Tuhan, “Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah, dan bertaqwa kepada-Nya, mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (Q.S. An-Nur; 52).

Dahsyatnya hikmah dari rasa takut kepada Allah ini pernah Rasulullah SAW ceritakan dalam sebuah hadis qudsi, “ada seorang lelaki yang tidak pernah berbuat kebajikan sama sekali. Lelaki itu  berwasiat kepada keluarganya, ‘Jika aku mati, maka bakarlah aku hingga lumat menjadi abu. Kemudian, taburkanlah sebagian abu itu di daratan, dan sebagian lagi di laut. Demi allah, jika Allah sampai menghisabku, pasti Dia akan mengazabku dengan azab yang tidak pernah ditimpakan kepada seorangpun di alam semesta!’ Tatkala lelaki itu meninggal, keluarganya melaksanakan apa yang telah diwasiatkan kepada mereka. Lalu, Allah memerintahkan daratan untuk mengumpulkan abu yang disebar di daratan itu dan memerintahkan lautan untuk mengumpulkan debu yang disebar di lautan itu. Kemudian, Allah swt bertanya kepada lelaki itu (setelah dihidupkan kembali), ‘Mengapa kau lakukan ini?’ Lelaki itu menjawab, ‘Karena aku takut kepada-Mu Tuhanku, dan Engkau lebih tahu itu.’ Allah SWT lalu mengampuninya.”

Kedua, mengamalkan kandungan Al-Qur’an. Anugerah terindah umat manusia, bahkan seluruh makhluk di jagad raya ini adalah turunnya Al Qur’an sebagai mukjizat yang luar biasa. Selain keindahan kalimatnya yang memiliki ketinggian nilai sastra yang tiada banding, kandungan isinya pun sangat komprehenship mencakup berbagai aspek kehidupan dan keadaan di semesta raya. Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang amat mulia, pada kitab yang terpelihara (lauhul mahfudz), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam”. (QS. Al Hadid: 75-80).

Demikian pula Al Qur’an adalah master mind manusia dalam menjalankan perannya sebagai makhluk dan sekaligus khalifah di dunia ini, atau disebut hudan linnas. Namun kenyataannya sebagai muslim yang mengaku beriman, sebagian besar dari kita belum menjadikan Al Qur’an sebagai cara pandang dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan yang nyata dialami. Al Qur’an masih dikeramatkan dan disimpan rapat-rapat dalam almari yang tidak layak sentuh oleh tangan, pikiran dan hati kita sehingga menyebabkannya terasing dari keseharian kita. Menggambarkan keadaan ini, dalam konteks akademik, seorang akademisi ekonomi akan lebih fasih menjelaskan dan mengamalkan suatu teori ekonomi neoklasik daripada sistem ekonomi yang dilandasi kuatnya instrumen zakat, infaq dan shodaqoh. Demikian pula akademisi akuntansi akan lebih bangga mengamini dan mengamalkan berbagai teknik akuntansi dan standar akuntansi keuangan yang internationally recognized meski sarat dengan muatan riba dan spekulatif daripada menggali dan mengamalkan akuntansi berbasis bagi hasil. Kita telah terjebak pada cara berilmu yang sekuler, sehingga enggan menjadikan Al Qur’an sebagai rujukan dalam pengembangan ilmu. Oleh karena itu diperlukan suatu komitmen untuk menjadikan Al Qur’an sebagai cara pandang menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kehidupan akademik dan pengembangan ilmu. Dengan mengamalkan Al Qur’an pada berbagai lahan kehidupan, maka penguatan ketaqwaan kita akan terus terpelihara karena “Sesungguhnya Al Quran ini memberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan kebajikan, dan bagi mereka ada pahala yang besar”(QS. Al Isra;: 9), serta

“Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, sebagai petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS. Al Baqarah; 2).

Ketiga, bersiap menghadapi kematian. Setiap yang berjiwa pasti akan mati, demikianlah yang tersurat dalam QS. Ali Imran; 85. Ayat ini menyampaikan pesan kepada manusia agar selalu ingat dan waspada dalam menjalani kehidupan di dunia fana ini. Kematian adalah keniscayaan sehingga kita dituntut untuk mempersiapkan diri dengan selalu berbuat kebajikan dan menghindari keburukan.

Disebutkan dalam sebuah kisah, bahwa amirul mukminin Umar ibnu Khaththab suatu ketika hendak meminjam beberapa dinar dari baitul mal untuk memenuhi hajat kehidupan keluarganya yang saat itu dalam keadaan memprihatinkan. Amirus shunduq yang mengelola baitul mal lantas mengatakan kepadanya, “Apakah tuan bisa menjamin bahwa tuan masih hidup esok hari?”. Mendengar pertanyaan itu Umar lantas mengurungkan niatnya untuk meminjam beberapa dinar dari baitul mal.

Kisah di atas menggambarkan betapa pentingnya mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian, khususnya dengan sikap kehati-hatian dan kewaspadaan. Maka mari kita perhatikan firman Allah berikut:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan, Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 132-134)

Keempat, ridha untuk hidup sederhana. Dalam iklim kehidupan modern, tuntutan untuk mencapai derajat penghidupan yang tinggi telah menjadi obsesi banyak orang. Derajat penghidupan yang tinggi ini kebanyakan diwujudkan dalam kepemilikan harta yang berlimpah, pangkat yang tinggi atau ketenaran nama. Untuk menggapai obsesi ini segala cara dilakukan, tidak peduli halal atau haram. Di sinilah kemudian muncul pernyataan bernada canda, “hari ini makan apa, besuk makan di mana, dan lusa makan siapa?” yang mana ini menggambarkan sebagian kenyataan dalam kehidupan modern yang terjadi saat ini khususnya di kota-kota besar.

Sungguh, dalam iklim kehidupan seperti sekarang ini bergaya hidup sederhana akan disamakan dengan ketertinggalan. Derajat seseorang lebih banyak dinilai dari atribut atau aksesori penampilan mewahnya. Bukankah ketika seseorang pulang kampung dari

rantau saat lebaran seperti ini yang ditanyakan oleh kerabat atau teman kita adalah pulang bawa kendaraan apa, jabatanmu sekarang apa, tunjanganmu berapa, lalu mana bagi-bagi rejekinya? Inilah realitas yang senyatanya ada dan berlangsung saat ini. Keadaan ini dapat mendorong seorang pagawai atau pejabat untuk melakukan kecurangan dalam bekerja, seperti korupsi, manipulasi, atau suap. Bagi seorang akademisi, keadaan ini dapat mendorong dirinya untuk menjual daya kritis, obyektifitas dan integritas akademik lainnya demi imbalan uang atau jabatan tertentu. Demikian pula orientasi keglamoran hidup dapat menyebabkan seorang mahasiswa rela melacurkan dirinya. Dalam kerangka mengatasi ini, bagaimanapun pahitnya, kita semestinya memperhatikan pesan Nabi SAW, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta dunia, akan tetapi kekayaan yang hakiki itu adalah kaya akan jiwa”(HR.Bukhari Muslim).

Allahu Akbar, 3X walillahil hamd.

Demikianlah dengan merenungkan, menginternalisasikan, dan melembagakan keempat hal di atas sebagai sifat diri dan masyarakat akan dapat mewujudkan esensi ketaqwaan. Momentum Idul Fitri sebagai rangkaian dari ibadah ramadhan merupakan saat yang tepat untuk bersama-sama menguatkan komitmen untuk benar-benar merealisasikan ketaqwaan dalam kehidupan nyata kita. Indonesia dengan segala permasalahannya memerlukan gerakan revolusi mental dari umat Islam. Menjalani hakekat taqwa sebagaimana secara singkat telah diulas di atas adalah bagian substansif dari revolusi mental yang digaungkan pemerintah, atau bahkan sebenarnya lebih dari itu adalah revolusi akhlak. Jika ini dilakukan, maka kita akan menjadi orang yang dicintai Rasululullah SAW sebagaimana sabda beliau, “Sesungguhnya yang paling kucintai di antara kalian, dan orang yang paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari)

Lembaga pendidikan tinggi seperti Universitas Brawijaya ini selayaknya terus menggali, mengembangkan dan merealisasikan sifat taqwa dan perilaku ketaqwaan ini. Melaukan ini bukanlah sekedar domainnya lembaga keagamaan atau perguruan tinggi keagamaan semata. Bukankah tujuan pendidikan nasional (no. 20 tahun 2003) dan tujuan pendidikan tinggi (no. 12 tahun 2012) kita adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik (mahasiswa) agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, …. Ini adalah amanah luhur yang semestinya tidak dianggap angin lalu oleh sivitas akademika, khususnya para akademisi Universitas Brawijaya. Komitmen penuh harus diberikan untuk pengupayaan dan perwujudan tujuan ini baik dalam lingkup kurikulum, ekstra kurikulum maupun tata kelola kelembagaan, sehingga pesan mulia undang-undang ini tidak sekedar menjadi wacana yang akan hilang ditelan oleh hiruk pikuk kesibukan berbagai aktifitas dan pengembangan ilmu pengetahuan yang tidak selaras dengannya.

Insya Allah dengan perenungan yang mendalam di majelis yang mulia ini serta kecerahan hati kita di hari raya Idul Fitri ini mampu mengantarkan kita pada tindakan nyata untuk merealisasikan hakekat ibadah dan pemujaan kita kepada Allah SWT tersebut. Rasulullah SAW berpesan, “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Susullah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskan kejelekan tersebut, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik. ” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan selain keduanya.)

Allahu Akbar, 3X walillahil hamd

Untuk menutup khutbah ini, marilah kita panjatkan do’a yang tulus kepada Allah SWT.

Alhamdulillahi robbil’aalamiin, Allahumma sholli wasallim ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa ashhaabihi ajma’iin.

Ya Allah ya rohmaan ya rohiim, Pilihlah kami menjadi hamba-hambaMU yang pandai bersyukur, jadikan kami hamba-hambaMu yang sabar, jauhkan kami dari menjadi hamba-hambaMu yang sombong.

Ya Allah Yang Maha Suci, karuniakan kepada kami, hati yang selalu ingat kepadaMu, baguskan ibadah kami, jadikan kami hamba-hambaMu yang bertaqwa, hiasi pribadi kami dengan akhlak yang mulia, bersihkan jiwa kami, jernihkan pikiran kami, mudahkanlah  jalan yang kami lalui dan limpahkan kepada kami rejeki yang Engkau berkahi.

Ya Allah Yang Maha Pemurah, jadikan kami keluarga besar Universitas Brawijaya, sebagai pemimpin umat yang amanah di berbagai bidang yang dipercayakan kepada kami. Jadikan kami akademisi/ilmuwan/cendekiawan/ filosof yang mampu mengemban amanah untuk mencerahkan mahasiswa, masyarakat dan bangsa kami. Jadikan mahasiswa kami sebagai generasi ulil albab yang mampu menerangi tanah air tercinta Indonesia dan seluruh semesta alam.

Ya Allah Yang Maha Luhur, jadikan Universitas Brawijaya sebagai insitusi pendidikan yang penuh rahmat laksana surga yang nyaman untuk berkiprah para akademisi, pemikir, ilmuwan, cendekiawan dan filosof yang akan melahirkan peradaban agung di negeri ini. Jadikan Universitas Brawijaya tempat yang penuh berkah dan kemuliaan untuk penempaan raga, pikir, rasa dan batin kami sehingga terlahir ilmu pengetahuan dan karya agung yang berguna untuk kemaslahatan di alam semesta.

Ya Allah Yang Maha Mulia, jadikan keluarga kami sebagai keluarga mulia yang sakinah mawadah warahmah sebagaimana dicontohkan oleh Rasul kesayanganMu Muhammad SAW. Jadikan rumah tangga kami sebagai penumbuh keindahan dunia sebagaimana keluarga Adam dan Hawa, serta sebagai pemelihara kemuliaan peradaban dunia sebagaimana keluarga Ibrahim AS.

Ya Allah Yang Maha Pengampun, ampunilah dosa kami, dosa orang tua kami, dosa anak turun kami, dosa saudara-saudara kami, serta dosa sahabat, anak didik dan anak bimbing kami.

Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu kecintaanMu dan kecintaan orang-orang yang mencintaiMu, dan memohon kecintaan terhadap amalan yang mendekatkan kepada kecintaanMu.

Allahumma inni as`alukal ‘afwa wal ‘afiyah fiddunya wal akhirah. Rabbana dholamna anfusana waillam taghfirlana watarhamna lanakunanna minal khosiriin. Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a’yun waj’alna lil muttaqiina imaman. Rabbij’alni muqiimash shalaati wa min dzurriyati. Rabbana wataqabbal du’a. Robbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wafil aakhiroti hasanah waqinaa ‘adhaabannaar. Subhana robbika robbil izzati ‘amma yasifun wa salamun ‘alal mursalin walhamdulillahi robbil alamin.

Mohon maaf atas segala kekhilafan, taqabalallahu minna wa minkum

Billahitaufiq walhidayah

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.