Ditulis pada tanggal 25 Mei 2018, oleh admin, pada kategori Berita, Buletin Universitas Brawijaya

Tinggal hitungan jari ummat Islam akan bersua dengan bulan yang dinanti-nanti yaitu bulan Ramadhan, bulan pembakaran dosa-dosa, bulan yang penuh rahmat, barakah nan magfirah. Patut disukuri bagi kita yang beragama Islam, sebab kita masih diberi kesempatan untuk berjumpa dengan bulan yang sejatinya bulan lebih baik dari seribu bulan. Terlebih-lebih kehadiran bulan Ramadhan ini dapat dimaknai dengan semangat pembaharuan yaitu semangat lebih baik dari tahun kemarin. Memang tidak mudah untuk mewujudkannya, namun dengan hadirnya bulan yang suci ini, tidak mustahil untuk mewujudkannya.

Ada fenomena yang tidak asing lagi bagi kita dengan datangnya bulan yang suci ini, yaitu fenomena melonjaknya harga bahan pokok, adalah suatu ketidakwajaran, jika suatu kejadian terjadi dengan berulang-ulang? Bagaimana mungkin dari tahun ketahun fenomena ini selalu terjadi bahkan sudah menjadi rutinitas yang tidak dapat lagi dielakkan oleh masyarakat. Ada apa sebenarnya dengan fenomena ini? Pemerintah pun hanya diam membisu dengan hal ini, sebab, melonjaknya harga bahan pokok menjelang Ramadhan dan lebaran sudah dianggap sebagai suatu kewajaran, paradigma pemerintah melihat fenomena kenaikan harga sebagai suatu kewajaran sangatlah tidak beralasan, dan ini menunjukkan ketidakmampuan pemerintah memberikan solusi akan hal ini.

Memahami Esensi Ramadhan

Bila dikaji ulang kembali, kejadian naiknya harga makanan pokok menjelang bulan Ramadhan bukanlah suatu masalah yang tidak dapat diselesaikan. Jika kita dapat memahami apa arti sebenarnya dari Ramadhan itu, tentulah permasalahan akan kenaikan harga makanan pokok dapat diatasi. Bukankah Ramadan ini mengajari kita untuk hidup sederhana, bukankah kita diajari untuk membekali diri seperlunya, lalu kenapa dengan hadirnya Ramadhan justru malah sebaliknya? Sebuah teka teki yang perlu kita tuntaskan bersama.

Satu bulan penuh kita diajak untuk tampil sederhana, dari mulai sahur sampai buka puasa dan menjaga nafsu bahkan mengekangnya agar kita tetap pada jalurnya. Namun pada waktu buka puasa kita melebihi apa yang semestinya, apa saja ada di atas meja makan. Bahkan melebihi hari-hari biasa, jika dalam hari-hari biasa kita hanya makan dengan dua macam lauk bahkan satu macam, namun lain halnya pada waktu buka puasa bermacam hidangan ada di meja makan.

Pertanyaannya adalah apakah kita sudah benar-benar mengimplementasikan apa yang terkandung dan tersirat bahkan tersurat dalam bulan Ramadhan yaitu hidup tidak berlebih-lebihan jawabannya ada pada diri kita masing-masing.

Lebih jauh lagi, hampir sistematika kehidupan berubah dengan hadirnya Ramadhan, jam kerja kantor misalnya menjadi tidak produktif, menjadi tidak disiplin pada diri kita, lagi-lagi puasa yang jadi alasannya, inilah potret bangsa kita jika memasuki wilayah bulan Ramadhan.

Melihat dampak negatif yang ditimbulkan oleh puasa, kiranya kita perlu kembali memahami apa esensi dari bulan Ramadhan itu sendiri. Namun tidak jarang juga dampak positif yang kita rasakan dengan hadirnya Ramadhan, akan tetapi sejatinya bulan Ramadhan tidak menimbulkan dampak negatif, melainkan kitalah yang menjalankannya lalai akan memahami esensi Ramadhan itu sendiri.

Melihat sejarah perkembangan peradaban Islam rasulullah melaksanakan perang badr pada bulan puasa, beliau tidak pernah meminta untuk diperlakukan istimewa, tetapi malah lebih semangat untuk bekerja dan dengan puasa beliau lebih fokus terhadap serangan lawan, sama halnya dengan perang fathu al-makkah semua itu di laksanakan pada bulan Ramadhan, tidak pernah tersirat dalam benak rasulullah bahkan berpikir untuk bermalas-malasan. Lalu kenapa kita malah melakukan yang sebaliknya? suatu pertanyaan besar yang perlu di renungkan.

Lebaran momentum bersilaturahim

Satu bulan penuh kita di uji yaitu pada bulan Ramadhan, kata Ramadhan di ambil dari kata ra-ma-dha yang artinya pembakaran. Bulan inilah bulan yang penuh rahmat, barakah dan magfirah ini seluruh dosa-dosa kita di bakar. Dengan begitu kita harapkan pada bulan selanjutnya atau bulan syawal dalam keadaan suci, seperti bayi yang baru lahir tanpa dosa sekecil apapun atau diibaratkan seperti lembaran kertas yang putih lagi bening tanpa setitik noda. Inilah yang diharapkan setiap muslim, namun tidak sampai disitu saja, lahir seperti bayi tanpa dosa harus ada kontinuesitasnya yaitu dihari kemenangan kita dituntut untuk merayakannya bersama-sama, akan tetapi perlu di garis bawahi bahwa semua kemenangan harus dilaksanakan tanpa melewati batas-batas kesederhanaan.

Disatu sisi sebagai umat muslim dituntut untuk selalu menjaga silaturahim dengan sesama, sebab, sebagai makhluk sosial kita tidak bisa hidup sendirian. Pada saat tertentu membutuhkan uluran tangan orang lain, bahkan satu detikpun manusia tidak bisa lepas dari orang lain.  Tidak ada satupun makhluk hidup bisa hidup sendirian tanpa orang lain.  Untuk itulah di haruskan menjalin dan menjaga silaturahim dengan sesama makhluk sosial tanpa harus melihat status sosial. Islam tidak mengajarkan pilah pilih dalam menjalin silaturahim, sebab tidak ada perbedaan dalam Islam, sikaya dan simiskin sama, silemah dan sikuat sama, pejabat maupun tukang parkir sama, itulah tanda kesempurnaan agama Islam. Yang membedakan kita hanyalah ketaqwaannya terhadap Allah SWT.

Lebaran adalah waktu yang tepat untuk menjalin silaturahim, dimana satu tahun bahkan lebih dari itu kita tidak pernah tatap muka bahkan sudah lupa, inilah waktu yang tepat untuk menjalin kembali hubungan yang telah lama tak terhubung. Dengan menjalin silaturahim kembali akan mempermudah kita mencari rezki yang di tetapkan sang Khaliq, dengan menjalin silaturahim kembali umur akan di perpanjang. Itulah kelebihan menjalin silaturahim di pandang dari sudut agama. Lain halnya bila kita pandang dari kaca mata sosial semakin banyak saudara semakin sedikit musuh dan yang dulunya tak kenal maka jadi kenal, dengan perkenalan inilah pintu-pintu reziki di bukakan. Sungguh indah menjalin silaturahim itu.

Lebaran ditandai dengan adanya takbir keliling yang sudah mengakar di hati masyarakat bahkan sudah menjadi tradisi di Indonesia, esok harinya semua ummat muslim berbondong-bondong menuju satu tempat yang telah disepakati guna melaksanakan sholat ‘id. Tidak ada perbedaan antara masyarakat, sejenak status sosial di lupakan, yang ada hanya ada senyum yang menandakan hari kemenangan. Inilah hari kemenangan yang dinanti-nanti oleh setiap muslim.

Lebaran “ I’dul fitra atau I’dul futur ”?

Satu hal yang harus kita garis bawahi bersama yaitu, perayaan hari kemenangan seharusnya tidak dengan cara berlebih-lebihan, mari sejenak intropeksi diri dengan melihat ke meja dapur, apa saja dihidangkan. Padahal kita sudah di ajari satu bulan penuh untuk berjiwa sederhana tanpa harus melampaui batas. Namun bila dilihat dalam kehidupan sehari-hari tidak semua ada di atas meja makan.

Maka tidak mengherankan jika mendengar harga barang naik drastis tinggi menjelang bulan Ramadhan dan bulan syawal. Sebab yang seharusnya tidak ada, justru diadakan, seharusnya tidak perlu malah dianggap perlu. Inilah bingkai potret masyarakat kita menjalang bulan Ramadhan dan syawal masih mengikuti tradisi masyarakat zaman dulu. Bukankah dalam konsep ekonomi dikatakan bila kebutuhan konsumen lebih banyak daripada barang, maka harga barang akan naik.

Seharusnya lebaran kita kembali ke fitra atau suci dalam bahasa arabnya ‘id fitra malah lebih tepatnya ‘id futur, kembali makan. Mungkin benar apa kata aristoles tujuan membuka tujuan yang lain, setelah kita kembali fitra kemudian kembali mengurusi isi perut.  Tidak peduli simiskin atau sikaya, semua menghidangkan apa yang seharusya tidak perlu. Seakan-akan puasa yang kita jalani satu bulan penuh hanya menjadi rutinitas semata tanpa membekas dihati kita. Lalu muncullah pertanyaan apakah puasa kita pada bulan Ramadhan sudah benar-benar kita hayati? lagi-lagi jawabannya ada dalam hati kita masing-masing.

Bila dilihat dari sudut pandang kesederhanaan seharusnya tidak perlu mengeluarkan sesuatu  untuk sesuatu yang kurang bermanfaat. Lebih ironisnya lagi tidak jarang masyarakat menabung selama berbulan-bulan guna untuk dihabiskan pada hari lebaran nanti. Apalah artinya jika selama ini hidup dengan sederhana bila hanya dihabiskan dalam sekejap waktu. Maka benar apa kata nenek moyang kita, baju putih rusak karena setitik noda hitam. Wallahu a’lam bi as-sowaab.

Oleh: Albar Adetary Hasibuan, M.Phil – Dosen Pusat MPK Universitas Brawajaya (UB) Malang.