Ditulis pada tanggal 27 Pebruari 2018, oleh admin, pada kategori Berita, Buletin Universitas Brawijaya

Satu fenomena yang benar – benarmerata pada seluruh lapisan masyarakat adalah merajalelanya musik dan sejenisnya. Hampir dapat dipastikan bahwa seluruh masyarakat saat ini sulit untuk terhindar dari fitnah ini. Di rumah, tempat kerja, kendaraan, tempat belanja, hampir di setiap tempat dan setiap saat, bahkan di dalam masjid kita kerap kali menemukan orang dengan santainya mendengarkan musik. Dunia tanpa musik? Kiamat! Begitu orang bilang. 

Dalam sebuah riwayat Nabi Muhammad SAW bersabda; “Akan terjadi di akhir zaman penenggelaman bumi, hujan batu, dan pengubahan rupa.” Maka ada seseorang dari kaum muslimin yang bertanya. “Kapankah peristiwa itu akan terjadi wahai Rusulullah?” Beliau menjawab, “Apabila musik dan biduanita telah merajalela dan khamr telah dianggap halal. (HR. Tirmidzi, 2212) 

Korelasi antara hukuman Rabbaniyah dengan merajalelanya artis, musik, dan minuman keras.

Ketika keyakinan manusia tentang terjadinya musibah dan bencana alam (banjir, gempa bumi, gunung meletus, longsor) lebih dikaitkan dengan teori-teori para pakar, daripada mengaitkan kejadian tersebut kepada tingkah laku manusia itu sendiri. Sesungguhnya fenomena ini merupakan kerusakan yang paling parah dari sisi akidah. Bagaimana tidak, bukankah ini sebuah bentuk penolakan halus akan peran Qadha dan Qodar yang telah ditetapkan? Bukakah ini sebagai bentuk pengingkaran seseorang kepada nubuwat dan isyarat qur’aniyah yang melazimkan adanya azab bagi orang-orang durhaka?

Seorang muslim menyadari bahwa semua musibah yang menimpa manusia merupakan ketentuan Allah SWT yang disebabkan oleh tingkah laku manusia. Para salafus shalih dari generasi sahabat dan setelahnya selalu menghubungkan seluruh bencana alam dan musibah yang menimpa manusia dengan kekufuran dan kezhaliman yang diperbuat oleh manusia itu sendiri. Misalkan: membuang sampah di sungai, mengeksploitasi alam dari dalam dan permukaan bumi maupun lautan. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT:

Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu). (Asy-Syura [24]: 30)

Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan sesungguhnya Allah tidak menzhalimi hamba-hamba-Nya. (Ali Imran [3]: 182)

Inilah yang dipahami oleh Umar bin Khattab ketika beliau mengetahui adanya gempa kecil yang terjadi di kota Madinah. Maka beliau segera mengingatkan kepada para sahabat bahwa gempa ini terjadi karena kemaksiatan yang dilakukan oleh sebagain penduduk Madinah. Sebaliknya, kenikmatan dan kesejahteraan hidup manusia juga tergantung dengan kadar ketakwaan mereka. Besar dan kecilnya keberkahan hidup manusia didasarkan barometer amal shalih yang mereka perbuat. 

Allah SWT berfirman: Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. (Al-A’raf [7]: 96)

Maka, merupakan sebuah kejahatan berpikir yang dilakukan oleh manusia jika mereka menafikan peran Allah SWT dalam semua musibah dan bencana alam yang menimpa umat manusia, apalagi jika hanya semata menyandarkan kepada faktor alam semata. Tidak jauh berbeda halnya dengan apa yang hari ini ramai dibicarakan oleh manusia. Prediksi akan terjadinya pemanasan global yang ditimbulkan oleh hujan meteor hingga menimbulkan penenggelaman (banjir bandang) dan gempa dahsyat yang dikaitkan dengan beragam teori, semua itu cukup dijawab dengan sabda Nabi Muhammad SAW di atas. 

Sesungguhnya jatuhnya kepingan-kepingan material langit, badai, gempa tektonik, gelombang tsunami, banjir, longsor, pemanasan global dan semua musibah yang telah disebutkan tersebut, semua itu akan terjadi ketika puncak kemaksiatan berupa fenomena artis, musik, dan minuman keras sudah menjamur. Akan datang suatu masa di mana para artis, manusia musik, dan pecandu khamer akan menjadi manusia yang terkenal, menang, dan tenar. Komunitas itu akan menjadi barometer peradaban manusia. Para artis, bintang film, selebritis, pemusik, cover boy/girl, akan menjadi tolok ukur kesuksesan dan keberhasilan seseorang.

Mereka menjadi pusat berita, poros gosip, sumber rezeki, tambang harta dan puncak idaman setiap orang. Gaya hidup mereka, cara berpakaian, jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi, HP dan semua sarana teknologi yang digunakan, kendaraan yang di tumpangi, model rumah yang didesain, dan semua atribut merekan (tas, sepatu, jam tangan, kalung, cincin, topi dll) akan menjadi buruan setiap orang. Mulai dari berita selebritis, konflik antar mereka, berita gosip hampir menjadi andalan setiap stasiun televisi di Indonesia. Dan ironinya masyarakat sangat gemar menonton dan mengikuti acara-acara televisi yang bernuansakan artis dan musik. Bahkan usaha-usaha mereka di bidang makanan menjadi sangat populer di kalangan masyarakat saat ini. 

Mereka benar-benar telah menjelma sebagai nabi baru, bahkan tuhan baru di era digital ini, yang menggeser Allah SWT dan Rasul-Nya. Cerita tentang kisah hidup mereka lebih asyik untuk dikaji daripada membaca Al-Qur’an dan hadits, menghafal nama-nama mereka, dan anak-anaknya lebih disukai oleh kebanyakan manusia daripada menghafal nama para sahabat dan keturunannya. Lebih dari 50 persen berita di koran, televisi, dunia maya dan media lain dipenuhi dengan gosip-gosip mereka.  

Adapun keberadaan komunitas para pemusik dan pecandu khamer, maka keduanya merupakan pelengkap dunia hiburan yang menjadi penyempurna dunia artis. Komunitas ini bisa dipastikan sangat akrab dengan musik dan minuman keras, apapun nama dan bentuknya. Terlepas orang setuju atau tidak, tapi inilah realita yang terjadi. Hubungan antara artis, musik dan minuman keras ibarat manusia dengan ruhnya, sulit untuk dipisahkan!

Dimanakah korelasi antara ketiga komponen di atas dengan bencana besar yang menimpa manusia?

Pertama, Kemaksiatan sebagai pemicu datangnya musibah. Terlalu banyak dalil dan bukti serta penjelasan para ulama yang mengupas masalah ini. Apa yang menimpa kaum Luth, umat nabi Nuh, nabi Shalih, nabi Syu’aib termasuk bani Israel, semua itu disebabkan kekufuran dan maksiat yang mereka kerjakan.

Kedua, Dunia artis = dunia pergaulan bebas. Bukan rahasia lagi bahwa dunia artis dan selebritis adalah komunitas yang sangat dekat dengan pergaulan bebas. Semua tayangan dan aksi yang mereka lakukan adalah promosi dan ajakan untuk hidup bebas; bebas berciuman dengan siapapun di tempat umum, bebas bersentuhan dengan yang tidak halal, bebas untuk mengumbar aurat, bebas untuk melanggar syari’at dan bebas untuk berzina. Apapun alasan mereka, kesimpulannya hanya satu, mereka menggiring semua orang untuk menyetujui perzinaan massal dengan segala maknanya. 

Akibat dari ini semua adalah munculnya penyakit-penyakit sosial bahkan penyakit kelamin yang hinga saat ini belum ditemukan obatnya. Besar kemungkinan mereka akan merasakan seperti yang dirasakan orang-orang kafir; dari lubang hidung, telinga, bahkan mata mereka akan mengeluarkan cairan, kulit mereka juga akan melepuh dan bernanah. Inilah penyakit dan azab yang akan Allah SWT timpakan kepada orang-orang kafir dan para pengikut gaya hidup orang-orang fasik.

Ketiga, Selebritis = manusia materialis hedonis. Semua fenomena di atas tidak bisa dipisahkan dari meningkatnya kebutuhan manusia terhadap energi yang menjadi penopang hidup mereka. Faktor keserakahan, gaya hidup boros, sifat tamak dan rakus, konsumtif, jiwa materialis dan gaya hidup hedonis telah menjadi pemicu meningkatnya gaya hidup manusia. Terlalu banyaknya keinginan manusia untuk memiliki seluruh fasilitas hidup telah memicu digenjotnya mesin-mesin produksi dan eksplorasi mereka hingga batas wajar bahkan sampai eksploitasi alam yang tiada akhir. Inilah faktor terbesar yang membuat mesin-mesin pemicu pemanasan global itu tidak bisa dihentikan barang sedikitpun.

Gaya hidup inilah yang telah mengakar pada dunia artis, pemusik, pecandu khamer, dan para fans mereka. Boros, rakus, tamak, serakah, egois, konsumtif, dan pamer kekayaan yang kesemuanya benar-benar menguras energi bumi. Dengan gaya hidup yang telah memfosil seperti ini nampaknya bukan hal yang mudah untuk menyadarkan mereka untuk bersikap sederhana dan hidup qana’ah. Inilah hakikat sesungguhnya sebagaimana yang dijelaskan dalam riwayat di atas. 

Bagi seorang mukmin, membaca riwayat di atas sebenarnya sudah cukup untuk memahami hubungan yang erat antara fenomena pemanasan global dengan tiga poros kejahatan manusia (artis, musik, dan minuman keras). Barangkali, ini merupakan satu gambaran kecil bagaimana nubuwat Rasulullah SAW di atas telah menjadi kenyataan. Wallahu’alam bish Showab. (Aminullah Achmad Muttaqin, M.Sc.Fin. Dosen FEB Universitas Brawijaya)