Ditulis pada tanggal 27 September 2018, oleh admin, pada kategori Berita, Bloger Dosen

Hidup yang paling baik adalah berbuat baik dan berbagi kebaikan. Berbuat baik untuk diri sendiri dan keluarga sesungguhnya baik tetapi tidak cukup maka faham dan keyakinan berbagi kebaikan pada sesama itulah yang mencukupkan kehidupan kita, bahkan juga lebih baik, mengapa tidak? Pertama: Ketika kita hanya berbuat baik untuk diri sendiri itu sesungguhnya satu egoisme pribadi yang sedang dipelihara, maka dengan berbagi kebaikan pada sesama, berarti melepas egoisme diri untuk kemanusiaan. Kedua: Ketika kita berbagi kebaikan berarti telah melaksanakan fungsi sosial pada sesama. Fungsi sosial ini pasti mengandung banyak hikmah/berkah. Fungsi sosial sebagai hablunminannas inilah merupakan implementasi nyata dari fungsi hablunminallah kita. Tanpa itu, maka kehidupan kita akan pincang dan pada akhirnya menjadi bencana. Oleh karenanya fungsi sosial kemanusiaan kita sesungguhnya merupakan satu diantara kekuatan menolak bencana. Ini sesuai dengan pesan Rasul SAW: Al-Shadaqatu tutfu al-bala (Sedekah itu menghindarkan bencana). Demikian indah dan berkahnya kebaikan pada sesama. Ketiga : Membagi kebaikan, berarti melakukan pembebasan dan pemberdayaan kekuatan bersama. Tanpa terasa oleh kita bahwa sosial kemanusiaan kita pada sesama adalah sejatinya tertanam kekuatan pembebas dan pemberdayaan pada mereka. Se-kurang-kurangnya kita telah membebaskan  sesama dari problem yang dihadapi mereka. Katakanlah mereka terbebaskan dari rasa terkucil menuju rasa peduli dan empati orang pada mereka. Tidak hanya itu tetapi pemberdayaan diri mereka atas kebaikan kita juga. Yaitu mereka merasa masih banyak saudara-saudara yang peduli. Rasa ini penting untuk membangkitkan kekuatan bersama, bahwa kita adalah bagian dari mereka, demikian sebaliknya. Ke empat: Secara spiritual membagi kebaikan merupakan perbuatan dan kegiatan ibadah yang imbalan spiritualnya cukup menjadi bekal untuk hari akhir yang menjanjikan kebhagiaan. Jadi, membagi kabaikan pada sesama tenyata menjadi sarana untuk memperoleh kebahagiaan. Sehingga dalam hal tersebut Al-Qur’an surat a Al-maidah ayat: 2 pun memerintahkan kita untuk melakukan itu “….Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan”.

Perintah ayat tersebut, jelas meniscayakan kita untuk membagi kebaikan pada sesama, sekaligus larangan melakukan sebaliknya. Itulah perbuatan ibadah yang harus kita lakukan dalam rangka memperoleh kebahagiaan dari Maha Kuasa. Subhanallah, semestinya kita sebagai hamba Allah yang beragama seharusnya merasa bersyukur atas perintah dan dari kasih sayang dari Yang Maha Kuasa tersebut. Tetapi de facto dalam hidup kebanyakan orang lebih suka kufur dari pada bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barang siapa tidak bersyukur (kufur) maka sesungguhnya, Allah Mahakaya, Maha Terpuji (QS: Lukman:2)

Jadi, berbagi kebaikan terhadap sesama itu, sejatinya kita sedang menolong diri sendiri dengan kekayaan beramal shalih. Sehingga siapapun kita soal berbagi kebaikan pada sesama itu hendaknya juga mendapatkan perhatian. Disinilah apa yang dimaksudkan dengan kalimat “Dari kita, Oleh kita, Untuk kita. Selamat mencoba dan menjadikannya sebagai satu kebiasaan yang baik untuk mengisi hari-hari kehidupan kita. Semoga.!     (Oleh: Prof. Dr. Thohir Luth, MA – Guru Besar Ilmu Hukum Islam Fak. Hukum UB)