Ditulis pada tanggal 21 Pebruari 2018, oleh admin, pada kategori Berita, Buletin Universitas Brawijaya

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”.  Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (An-Nahl 68-69)

Akhir-akhir ini kita sering mendengar istilah generasi Y dan generasi Z dengan definisi dan cirinya masing-masing. Maka dalam tulisan ini penulis mengajukan istilah generasi lain yaitu B-Generation (Bee Generation atau generasi lebah). Ayat di atas merupakan potongan dari surat An-Nahl. Dalam surat ini dibahas tentang alam smesta (Kauniyah) seperti langit, bumi, matahari, bulan, gunung, tumbuh-tumbuhan dan hewan. Lebih khusus lagi surat ini membahas tentang An-Nahl itu sendiri yaitu lebah. Beberapa mufassir menilai bahwa penamaan surat An-Nahl merupakan salah satu penghormatan terhadap lebah atas segala keistimewaan yang dimiliki.  Pada surat An-Nahl ayat 68 dikatakan bahwa lebah diperintah Allah untuk membuat sarang-sarang di bukit, pohon dan tempat-tempat yang dibuat manusia. Sarang lebah mempunyai konstruksi yang sangat luar biasa sehingga wajar jika beberapa peneliti mengatakan bahwa sarang lebah adalah sebuah rumah. (Qohar, 2009).

Selanjutnya pada surat An-Nahl 69 dijelaskan bahwa akan keluar dari perut lebah minuman yang dapat menyembuhkan manusia yaitu madu. Sedang pada masa Al-Quran diturunkan belum banyak kajian tentang manfaat madu bagi manusia seperti kajian-kajian modern saat ini. Hal ini merupakan salah satu kemukjizatan Al-Quran. Selain itu kajian-kajian ilmiah tentang lebah dan madu tidak ada satupun yang bertentangan dengan kajian-kajian Al-Quran.  Sehingga pada ayat terakahir Allah menegaskan bahwa yang demikian itu merupakan tanda-tanda kebesaran Allah bagi siapa yang berfikir.

Motif Lebah Dalam Hidup

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadist yang di riwayatkan oleh Ahmad:

Diriwayatkan dari Abd Allah bin Amr bin al-Ash. Sesungguhnya dia mendengan Rasul SAW bersabda: Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, perumpamaan orang mu`min bagaikan lebah. Lebah itu memakan makanan yang baik-baik dan mengeluarkan yang baik pula. Tidak jatuh tatkala menghinggapi dan tidak mematahkan yang dihinggapi. (Musnad Ahmad Jilid II hal. 199).

Dari Hadist di atas dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya perumpamaan mu’min adalah seperti lebah. Sebagai mu’min hendaknya bersifat seperti halnya lebah. Diantara sifat-sifat lebah berdasarkan hadist tersebut yaitu:  

Pertama, memakan yang baik. Lebah hanya akan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat-tempat bersih lainnya yang mengandung bahan madu. Lebah tidak hinggap pada sampah dan kotoran. Begitulah seharusnya apa yang dilakukan seorang mu’min. Tidak memakan barang-barang haram dan kotor. Tidak melakukan hal-hal yang dilarang seperti pencurian, korupsi,  penipuan dan memakan riba. Sebgaimana firman Allah SWT:

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqarah: 168)

Kedua, mengeluarkan yang baik. Lebah selalu mengeluarkan sesuatu yang baik yang mempunyai khasiat bagi manusia. Lebah adalah binatang yang sangat produktif, produktif dengan segala kebaikan dan manfaat. Begitulah seharusnya seorang mu’min, segala yang keluar dari dirinya adalah kebaikan. Hatinya jauh dari prasangka buruk, iri, dan dengki. Lidahnya tidak mengeluarkan kata-kata kecuali yang baik. Perilakunya tidak menyengsarakan orang lain melainkan justru membahagiakan. Hartanya bermanfaat bagi banyak manusia dan kalau dia berkuasa dia akan memegang teguh amanah tersebut untuk kemaslahatan manusia. Allah SWT berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, ruku`lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. (Al-Hajj:77)

Ketiga, tidak terjatuh saat hinggap di ranting yang serapuh apapun. Lebah dalam hadist di atas juga disebutkan walau hinggap di ranting yang rapuh tidak akan terjatuh. Seorang mu`min tidak mudah dijatuhkan, karena mempunyai prinsip dan aqidah yang kokoh. Ia tidak mudah terpengaruh oleh keadaan yang membuatnya jauh dari Tuhannya. Mu’min adalah bagaikan barisan yang kuat dan bangunan yang kokoh, tidak mudah dirobohkan.  Allah SWT berfirman: 

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.(As-Shaff: 4).

Keempat, tidak menimbulkan kerusakan. Lebah tidak pernah merusak atau mematahkan ranting yang dia hinggapi. Begitu juga seharusnya seorang mu’min dia tidak pernah membuat kerusakan dimanapun ia tinggal bahkan dia harus melakukan perbaikan-perbaikan dalam masyarakat. Perbaikan dalam segala aspek baik dalam hal sosial ekonomi, pendidikan, akhlak dan lain sebagainya. Allah SWT berfirman:

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (At-Taubah: 71)

Generasi Unggul Barakter Lebah (Bee Generation)

Dalam surat An-Nahl dan Hadist yang disebutkan di atas, secara eksplisit pada hakikatnya manusia diperintahkan untuk memikirkan tentang lebah untuk diambil sebagai pelajaran dan teladan baik dalam kinerja dan hidup sehari-hari. Umat Islam selayaknya meniru kinerja lebah dalam kehidupan dan pekerjaannya diantaranya:

Pertama, patuh terhadap ketentuan dan ajaran-ajaran Islam atau Syariah. Patuh terhadap ketentuan Syariah ini mencakup area yang luas sekali, baik sikap, akhlak mulia, perbuatan maupun pakaian. Seorang muslim hendaknya selalu berkata, berbuat, bersikap dan berbusana yang sesuai dengan Syariah. Sebagaimana lebah ia selalu patuh terhadap perintah Allah SWT. Lebah hanya akan memakan makanan yang baik dan bersih, ia tidak akan memakan sampah dan benda-benda najis. Lebah mempunyai “garis merah” bagi mereka yang tidak boleh mereka langgar.

Kedua, berwawasan luas. Generasi muslim dituntut untuk berwawasan yang luas. Bukan hanya ilmu-ilmu umum melainkan harus mempunyai pengetahuan tentang ilmu-ilmu Islam yaitu tentang Al-Quran, Hadist, Fiqh, Ushul-Fiqh dan ilmu keislaman lainnya. Demikian halnya lebah, mereka mempunyai pandangan yang luas mencari madu bukan hanya satu jenis bunga di tempat yang sama. Tetapi mereka mencari dalam area yang lebih luas lagi sehingga akan diperoleh madu yang istimewa.

Ketiga, produktif. Melalui produk-produk yang dihasilkan oleh lebah, manusia diajarkan untuk selalu hidup produktif dan bermanfaat. Produk-produk yang dihasilkan lebah bukan hanya berguna bagi koloninya saja tetapi bergunan bagi makhluk hidup lainnya. Demikian halnya generasi muslim seharusnya meniru sifat lebah tersebut. Harus selalu produktif untuk meningkatkan kualitas hidup dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi sesama manusia dan semua makhluk. Generasi yang produktif adalah dia yang banyak kerja, aktif dan semangat dalam bekerja. 

Keempat, amanah. Lebah akan selalu melakukan dan memenuhi tugas yang ditugaskan. Baik lebah pekerja, lebah ratu maupun lebah jantan semuanya selalu melakukan tugas dengan kapasitas terbaik. Mereka selalu menjaga amanah yang diberikan. Demikian pula seharusnya generasi muslim meniru apa yang dilakukan lebah dengan selalu amanah terhadap semua tugas yang ia terima dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.

Kelima, kerjasama. Bagi lebah kerjasama lebih penting dibandingkan dengan kompetisi. Tidak seperti apa yang sering terjadi dalam dunia kerja saat ini yang sarat akan kompetisi. Lebah tahu bahwa mereka tak mungkin bisa mencapai tujuan seorang diri, sehingga mereka bekerja sama dan hidup secara rukun dengan rekannya. Begitu juga dengan generasi muslim, menyatukan pengetahuan dan pengalaman, serta saling bekerja sama akan membuat pekerjaan menjadi efektif. Dengan komunikasi yang baik tidak akan muncul konflik yang serius. Masing-masing orang menghormati kontribusi dan peran dari rekannya masing-masing.

Keenam, disiplin Kerja. Bagi lebah, tidak boleh ada kata terlambat. Mereka bergantung pada matahari saat mencari makan, sehingga lebah akan berangkat ketika matahari terbit dan pulang saat matahari terbenam. Disiplin adalah cara lebah untuk mendapatkan hasil optimal. Begitu juga bagi generasi muslim, Disiplin kerja akan memberikan hasil optimal karena pekerja menggunakan waktunya dengan efektif dan efisien.

Ketujuh, inspirator. Dalam segala aspek kehidupan lebah selalau memberi inspirasi bagi makhluk lainnya termasuk banyak memberikan inspirasi bagi manusia. Demikian halnya sebagai generasi muslim hendaknya mampu memberikan inspirasi bagi manusia yang lain. Mereka diharapkan mampu memberikan contoh yang baik bagi koleganya yang lain.

Melalui lebah manusia mendapat pelajaran yang sangat berharga. Segala aspek kehidupan lebah mampu memberikan inspirasi bagi manusia baik dalam lingkungan pergaulan maupun dalam lingkungan kerja. Sifat-sifat dan perilaku yang dimiliki oleh lebah inilah selayaknya dimiliki oleh generasi muslim saat ini. Inilah “B-Generation”. Wallahu a’lam bisshawaab. (Anas Budiharjo, M.A Dosen Universitas Brawijaya)