Ditulis pada tanggal 30 Mei 2017, oleh admin, pada kategori Berita, Buletin Universitas Brawijaya

AKHLAK MULIA TANDA KEJAYAAN BANGSA

Anas Budiharjo, MA*

Tegak rumah karena sandi
Runtuh budi rumah binasa
Sendi bangsa ialah budi
Runtuh budi runtuhlah bangsa.”
(Buya Hamka)

Ibarat sebatang pohon akhlak mulia adalah buahnya. Akarnya adalah kemurnian tauhid, sedangkan batang pokoknya adalah ketaatan menjalankan Syariah. Berakhlak mulia adalah buah dari keimanan seseorang. “Buruknya akhlak menandakan lemahnya iman”, demikian kata Syaikh Abdurrahman As-Sudais.

Kuatnya tauhid dan tekunnya ibadah tidak akan sempurna tanpa berbuah keluhuran akhlak. Layaknya pohon yang tak berbuah. Bukankah petani jika menanam, pastilah dia menunggu dan berharap akan buahnya. Seorang muslim haruslah mampu menjadi pohon yang rindang dan berbuah manis. Dia mampu memberi keteduhan dan manfaat bagi makhluk Allah lainnya (QS. 14:24-25).

                Akhlak sangat diperhatikan dalam Islam. Dalam Al-Quran dijumpai banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan tentang akhlak, diantaranya akhlak berbicara (QS. 17:53), akhlak berjalan (QS. 17:37) akhlak terhadap anak yatim (QS. 4:36), akhlak kepada orang tua (QS. 31:15), akhlak kepada karib kerabat (QS. 4:36) , akhlak kepada saudara dan tetangga (QS. 4:36), akhlak kepada kaum (bangsa) lain (QS. 49:11), sampai akhlak dalam memperlakukan binatang (QS. 5:2).

Demikian juga hadist-hadist Rasulullah SAW sangat banyak menjelaskan tentang pentingnya memiliki akhlak mulia. Kitab hadist sangat masyhur ditulis oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani berjudul Bulughu Al- Maram min Adillati Al-Ahkam, sebenarnya merupakan kitab kumpulan hadist-hadist hukum, namun di akhir kitab beliau menjelaskan tentang hadist-hadist akhlak. Beliau seolah ingin menjelaskan bahwa setelah menguasai ilmu-ilmu hadist maka hiasilah diri dengan akhlak yang mulia. Sungguh tiada guna ilmu yang tidak melahirkan akhlak mulia.

Ilmu yang tidak dihiasi dengan akhlak mulia, ibarat benih yang ditanam namun menumbuhkan pohon yang berduri dan berbuah masam. Ia tak mampu memberi manfaat, tak mampu menjadi tempat teduh, justru durinya melukai setiap orang yang lalu. Banyak yang terluka hatinya karena sikap dan akhlaknya yang buruk.

Setelah mempelajari ilmu seharusnya semakin tampak kemuliaan akhlaknya. Semakin bertambahnya ilmu hendaknya semakin luntur kesombongan di dadanya. Seiring bertambahnya ilmu seyogyanya semakin tampak kelembutan hatinya dan kelurusan lisannya, semakin banyak manusia yang mampu mengambil manfaat darinya, semakin bertambah manusia yang “berteduh” kepadanya dari “panas”.

Al-Imam Abdullah bin Mubarak, sebagaimana  dikutip dari Adabul ‘Alim wal Muta‘allim karya Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari berkata “Kita lebih membutuhkan adab (meskipun) sedikit dibanding ilmu (meskipun) banyak.”

KEUTAMAAN AKHLAK MULIA

Rasulullah SAW menjelaskan tujuan diutusnya Baginda melalui sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. Baginda jua lah yang memberikan dan menjadi contoh akhlak mulia tersebut. Beliau lah pemilik akhlak yang paling mulia. Allah SWT memuji akhlak Baginda: Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Al-Qalam: 4)

Rasulullah SAW juga menjadikan akhlak mulia sebagai ukuran kedekatan dengan beliau kelak. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Hibban). Hadist ini menunjukkan betapa penting dan tingginya kedudukan akhlak mulia.

Syaikh Abdul Malik Al-Qasim berkata bahwa akhlak mulia merupakan sifat dari sifat-sifat para Nabi, Rasul, Shiddiqiin dan Sholihin. Dengan akhlak tersebut mereka mendapatkan derajat yang mulia, sehingga pantaslah para pemilik akhlak mulia akan bersama Rasulullah SAW dan para Nabi di hari akhir nanti.

Rasulullah SAW selalu memberi contoh dan mendorong ummatnya untuk selalu berpegang teguh terhadap akhlak mulia. “Orang yang paling banyak masuk surga diantara kalian adalah yang bertaqwa kepada Allah dan yang berakhlak mulia”, (HR. Tirmidzi dan Al-Hakim), demikian beliau memotivasi ummat untuk terus berakhlak mulia.

Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan mengapa Rasulullah SAW mengumpulkan antara taqwa dan akhlak mulia, karena taqwa adalah hubungan antara manusia dengan Allah SWT, sedangkan akhlak adalah hubungan antara manusia dengan makhluk-Nya, taqwa adalah menuju kepada cinta Allah SWT, sedangkan akhlak mulia mengajak manusia menuju cinta Allah SWT.

Akhlak mulia merupakan amalan yang paling berat dalam timbangan pada hari kiamat nanti, begitu Baginda Rasulullah SAW bersabda dalam hadist dari Abu Darda: “Tidak ada sesuatu yang lebih berat di timbangan pada hari kiamat, dari akhlak yang mulia” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Hadist-hadist di atas menunjukkan betapa akhlak mulia mempunyai keutamaan yang sangat besar. Belum sempurna keimanan seseorang jika tidak melahirkan akhlak mulia. Bahkan kepada binatang pun muslim diperintahkan untuk selalu menjaga akhlak, apatah lagi kepada sesama manusia.

Adalah seorang wanita dimasukkan Allah ke dalam nereka karena buruk akhlaknya terhadap binatang. Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar dari Nabi SAW bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang dia kurung sampai mati. Dia masuk neraka karenanya. Dia tidak memberinya makan, dan minum sewaktu mengurungnya. Dia tidak pula membiarkannya dia makan serangga bumi.”

AKHLAK MULIA TANDA KEJAYAAN BANGSA

“Apakah akhlak mulia itu ya Rasulullah?”, demikian Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW menjawab: “meyambung silaturahmi kepada yang memutuskan denganmu, memaafkan orang yang berbuat dzalim kepadamu, memberi kepada yang tidak mau memberi kepadamu”. (HR. Al-Baihaqi)

Sungguh, akhlak mulia mempunyai dampak yang sangat besar baik dalam diri seseorang, keluarga maupun masyarakat berbangsa. Kemuliaan akhlak akan memunculkan rasa kedamaian, saling mencintai, harmoni dan persaudaraan, sedangkan akhlak tercela akan menimbulkan kebencian, dengki dan permusuhan.

Kedamaian dalam suatu bangsa akan diperoleh jika masing-masing individu mengamalkan akhlak mulia sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT dan dicontohkan oleh Baginda Rasulullah SAW. Sebaliknya sebuah bangsa akan terkoyak kedamaian dab persatuannya jika meninggalkan dari berpegang teguh terhadap akhlak mulia.

                “Akhlak disetiap ummat sejatinya merupakan tanda-tanda kejayaan ummat tersebut (‘unwaanu majdiha)”, demikian Syaikh Abdurrahman As-Sudais menulis. Sejarah telah membuktikan bagaimana kejayaan ummat Islam dahulu selalu diiringi dengan indahnya akhlak, baik akhlak para pemimpin dan rakyat nya. Akhlak mulia selalu mempunyai korelasi dengan kejayaan sebuah bangsa.

                Kejayaan Islam ketika di bawah Khalifah Umar bin Abdul Aziz –masa dimana tiada dijumpai satu pun rakyat miskin- sungguh tertulis dengan tinta emas bagaimana indahnya akhlak Amirul mukminin dan ummat Islam kala itu, bahkan terhadap binatang sekalipun.

Jika musim salju mereka mendaki dengan membawa biji-bijian untuk disebarkan di puncak-puncak gunung demi memastikan tiada satu ekor burung pun yang mati kelaparan di musim dingin. “Tebarkan biji-bijian di puncak-puncak bukit, agar tidak ada burung kelaparan di tanah muslimin”, perintah Khalifah Umar bin Abdul Aziz kala itu.

                Kejayaan Islam di Andalusia -negara dengan peradaban yang maju, hidup harmoni dan toleran dalam keberagaman (diversity)- masyhur dalam sejarah mulianya akhlak khalifah, ulama dan pemuda-pemuda Andalusia saat itu. Mengkaji ilmu dan akhlak menjadi kegemaran mereka, majlis-majlis ilmu bermunculan bak jamur di musim hujan, pemuda-pemuda hilir mudik ke perpustakaan menuntut ilmu, penemuan-penemuan dalam sains dan teknologi sepenuhnya diniatkan mencari ridho Allah SWT.

                Demikian juga di negara-negara maju saat ini, meskipun belum berakidah, kita jumpai ternyata penduduknya telah mampu mengamalkan beberapa akhlak yang baik; menjaga kebersihan sungai, menjaga kebersihan kota, membuang sampah pada tempatnya, melestarikan hutan, bahkan merekalah negara dengan angka korupsi yang terkecil.

                Sebaliknya, sering dijumpai di negara-negara tertinggal dan berkembang pemandangan kota-kota yang kotor, sungai-sungai tercemar, hutan-hutan yang dibakar, praktek-praktek suap dan korupsi terus merajalela, kesombongan dan keangkuhan penguasa dan lain sebagainya. Akhlak buruk penduduknya membuat negara semakin tertinggal, bahkan terpecah persatuannya meskipun mungkin di sebuah negara muslim. Inilah kata Buya Hamka, runtuh budi runtuhlah bangsa.

            Akhlak mulia mengantarkan manusia kepada kedamaian, keharmonisan, kesejahteraan, keselamatan hidup di dunia dan di akhirat. Inilah Islam, agama rahmat bagi smesta. Kita memohon kepada Allah SWT dikaruniai akhlak dan amal yang mulia. Wallahu a’lam bis shawaab.

*Dosen PAI Universitas Brawijaya, Penggiat Fiqh Keuangan Syariah